‘Menutup’ Muktamar XVIII IMM sebelum Penutupan, Ini Pesan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Pak Mu’ti

771
Hikmah Press
Sekum PP Muhammadiyah DR Abdul Mu’ti didampingi Rektor UMM DR Fauzan, saat berpamitan meninggalkan arena Muktamar XVIII IMM, Ahad (5/8) di Aula GKB 3 (foto: izzudin/pwmu.co)

PWMU.CO – Dijadwalkan ditutup pada Sabtu sore, (4/8/2018), ternyata hingga Ahad siang (5/8), Muktamar XVIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) belum selesai. Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah DR Abdul Mu’ti yang dijadwal untuk menutup acara di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) inipun harus berkali-kali menunda tiket pesawat dari Malang ke Jakarta.

Namun begitu, Mu’ti tidak bisa menunda lagi untuk sekian kalinya. Dia pun harus “menutup” Muktamar IMM XVIII sebelum penutupan, dan berpamitan meninggalkan arena Muktamar. “Muktamar bukan segala-galanya, begitupun hasil Muktamar bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan ini adalah awal dari segalanya bagi IMM di masa yang akan datang,” ujarnya mengawali pesannya saat tampil di arena Muktamar.

iklan

Mu’ti lebih banyak menyoroti tentang tantangan ke depan IMM daripada hanya menjadikan Muktamar sebagai segala-galanya. “Karena tantangan ke depan tidak sederhana, maka IMM di masa mendatang harus berciri penguatan pemikiran, gerakan dan moral agar masa depan bangsa lebih maju dan lebih baik lagi.”

“Hendaknya kita belajar dari masa lalu untuk kebaikan masa yang datang. Dengan mengedepankan kepentingan kader IMM dan persyarikatan Muhammadiyah,” tegasnya.

Katanya dengan penuh rasa sayang sebagai senior IMM, Mu’ti yang juga alumni IMM, berpesan tentang pentingnya kebersamaan dan saling mendukung antarkader. “Sang juara bukanlah yang tidak pernah kalah. Tapi sang juara adalah mereka yang bisa bangkit dari kekalahan dan kekecewaan,” tuturnya sambil memberikan isyarat selalu saling bersama dan saling mendukung sesama kader dan pimpinan IMM.

“Muktamar IMM harus dijadikan perhelatan pemikiran dan kecerdasan dalam memberikan ide-ide baru. Karena basis IMM ada Intelektualitas, moralitas, dan Humanitas,” harapnya.

Kemudian Abdul Mu’ti berharap kepada seluruh kader IMM se-Indonesia, “IMM harus menjadi gerakan dan pemikiran yang diatas rata-rata, above the average. Jika IMM berada di level rata-rata, maka tidak akan menjadi penting dan strategis bagi IMM ke depan,” katanya.

Dan terakhir Abdul Mu’ti memohon maaf tidak bisa mengikuti hingga akhir penutupan Muktamar IMM XVIII. “Saya mohon maaf kepada adik-adik IMM semua, tidak bisa mengikuti kegiatan Muktamar sampai selesai, karena harus balik ke Jakarta,” katanya.

Masih mau molor lagi? (izzudin)