Penasaran dengan Seblak, Mahasiswa KKN Ini Demo Memasak kepada Ibu-Ibu PKK

80
Hikmah Press
Dennis/pwmu.co
Mahasiswa dan ibu PKK Sidokelar memasak seblak.

PWMU.CO-Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Karangasem Paciran mengisi kegiatan ibu-ibu PKK Desa Sidokelar dengan acara memasak seblak. Makanan dari Bandung ini bercita rasa gurih dan pedas.

Demo memasak itu berlangsung di balai desa, Jumat (10/8/2018). Sebanyak 40 ibu-ibu PKK membanjiri arena ini karena penasaran dengan makanan yang belakangan ini populer sebagai jajanan anak-anak.

iklan

Demo masak dipandu Lilik Mafthukhatul Jannah, mahasiswi STAIM.  Dia menjelaskan, seblak ciri khasnya kerupuk kanji atau kerupuk udang yang direbus dengan kuah kental yang gurih, pedas, dan segar.

Sekarang banyak variasinya. Ada yang ditambahi makaroni, telur, sosis, pentol atau ceker, dan sayuran seperti sawi. ”Hari ini kita membuat seblak dengan bahan kerupuk ditambah makaroni, telur, sosis, pentol,” tutur Mafthukha.

Siapkan juga bumbu seperti garam dan penyedap. Setengah ruas jari kencur. Lantas  bawang putih, bawang merah, cabe rawit, cabe kriting. ”Bumbu diulek lembut,” kata Mafthukha.

Cara memasaknya, sambung dia, langkah pertama didihkan air. Setelah mendidih, masukkan kerupuk. Rebus hingga lembek. Lalu angkat dan tiriskan. Kemudian panaskan minyak. Orak-arik telur terlebih dahulu lalu tiriskan.

”Setelah itu tumis bumbu halus hingga harum,” ujarnya. Bau asap bumbu yang ditumis menyebar ke ruangan.  ”Beri sedikit air. Tambahkan garam dan penyedap secukupnya. Selanjutnya orak arik telur, sosis, atau pentol serta sayur sawi masukkan. Aduk rata. Terakhir masukkan kerupuk yang telah direbus. Lalu aduk lagi. Sudah matang, angkat dan sajikan,” tandasnya mantap sambil mencium seblak ala mahasiswa KKN ini.

Masakan matang maka ibu-ibu itu pesta makan seblak. Sekretasi Desa Sidokelar Erida SE mengatakan, kegiatan PKK sudah enam kali pertemuan tahun ini. Baru pertemuan ini praktik kuliner.

“Seblak ini makanan yang asing di daerah kami. Banyak yang bertanya-tanya, dan itu memicu rasa penasaran ibu-ibu untuk mempelajarinya dan praktik,” kata Erida. (Dennis Nugroho)