Pidato Kebangsaan Muhammadiyah: Alami Stagnasi dalam 4 Kehidupan Berbangsa, Ini Karakter Pemimpin yang Dibutuhkan Indonesia

534
Hikmah Press
Ketua Umum PP Muhammadiyah DR Haedar Nashir saat menyampaikan Pidatio Kebangsaan di Dome UMM (foto: uzlifah/pwmu.co)

PWMU.CO – Memasuki tahun ke-73 kemerdekaan, masih banyak masalah krusial yang mencekeram bangsa Indonesia. Di antaranya yang cukup serius adalah korupsi yang massif, penegakan hukum yang lemah, kesenjangan sosial yang melebar, dan sumber daya alam yang dieksploitasi dan dikuasai asing, serta lain-lainnya yang berdampak luas pada kehidupan berbangsa menjauh dari cita-cita nasional.

Demikian Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah DR Haedar Nashir menyampaikan pokok pikiran Muhammadiyah dalam Pidato Kebangsaan di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ahad (12/8). Haedar menyampaikan, setelah 73 tahun merdeka, Indonesia masih mengalami kejumudan (stagnasi), penyimpangan (deviasi) dan peluruhan (distorsi) dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa ditimbang dari semangat, pemikiran, dan cita-cita luhur para pendiri bangsa.

iklan

“Meski harus diakui juga telah terdapat banyak kemajuan dalam kehidupan berdemokrasi dan hak asasi manusia, juga terkait dengan pertumbuhan ekonomi dan kemajemukan yang terpelihara. Namun tidak bisa dipungkiri masih banyak persoalan rumit yang harus segera diselesaikan,” tutur Haedar.

Lebih lanjut Haedar secara gamblang menguraikan 4 persoalan serius bangsa ini yang mengalami stagnasi, deviasi, dan distorsi. “Di antara persoalan yang cukup serius adalah korupsi, penegakan hukum yang lemah bahkan terkadang dijadikan alat politik, masih melebarnya kesenjangan sosial, juga sumber daya alam yang dieksploitasi dan dikuasai asing,” tegas Haedar.

Haedar menjelaskan akibat masalah-masalah krusial itu, bisa dipastikan Indonesia ini semakin tertinggal banyak hal dengan bangsa-bangsa lainnya. “Indonesia akan banyak kehilangan peluang untuk berkembang jika persoalan tersebut di atas tidak segera diperoleh pemecahannya,” jelas Haedar.

Menurut penulis buku “Islam Syariat” itu, Indonesia sesungguhnya memiliki modal untuk berkembang. Syaratnya, ada rekonstruksi kehidupan berbangsa yang ditegakkan di atas nilai-nilai luhur yang kokoh sekaligus melakukan perubahan transformasional yang signifikan dalam alam pikir, bersikap, dan bertindak oleh para elite dan warganya. “Dengan mewujudkan kehidupan berbangsa yang bermakna lebih dari sekedar kemajuan fisik-materi,” tegasnya.

“Karena itu, dalam pandangan Muhammadiyah, Indonesia ini membutuhkan pemimpin yang berkarakter progresif, reformatif, inspirasitif, dan yang terpenting berakhlak mulia yang mampu menyerap aspirasi masyarakat dan mampu mengkristalisasikan nilai agama dan moral Pancasila secara aktual sebagai landasan kebijakan dalam berbagai sektor kehidupan,” tegas Haedar.

Akankah muncul pemimpin negeri yang berkarakter istimewa itu? (uzlifah)