Basah di Lisan, Kering di Perbuatan

177
Pasang Iklan Murah

Basah di Lisan, Kering di Perbuatan

M Husnaini

Di antara kelemahan fatal umat Islam hari ini adalah menjadikan Islam manis dalam ucapan, tetapi pahit dalam tindakan. Basah di lisan, tetapi kering di perbuatan. Kita terlalu terampil berdebat, namun tidak tekun berbuat. Kita lupa bahwa beragama itu dengan pengamalan, bukan sekadar slogan.

Kerap kali kita pandai beretorika, namun tingkah laku tiada seindah kata. Meminjam istilah Haedar Nashir, beragama lebih banyak verbalisme, tidak menyentuh pesan suci yang mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan. Klaim agama rahmatan lil alamin, tetapi perangai kolektif justru jauh panggang dari api.

Perilaku naif semacam itu bukan hanya terjadi pada kalangan awam. Yang terbilang berpendidikan ternyata juga setali tiga mata uang. Kadang, perilakunya malah tidak kalah rendah dibanding yang katanya “tidak makan bangku sekolahan”. Dalam kaitan ini, penting kita ingat nasihat Imam Syafi’i dalam kitab Siyar A’lamin Nubala:

العِلْمُ مَا نَفَعَ، لَيْسَ الْعِلْمُ مَا حَفِظَ

“Ilmu adalah yang bermanfaat, dan bukan hanya yang dihafalkan.”

 

Sering kita melihat orang pandai, namun pecah kongsi antara ucap dan sikap. Itulah ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang semakin membuat pemiliknya merasa takut kepada Allah Swt. Tidak pula akan membanggakan diri, sehingga ketika orang lain menyampaikan kebenaran, dia ikhlas menerima.

Abdullah bin Mas’ud adalah salah satu sahabat yang mengumpulkan al-Quran langsung dari mulut Rasulullah. Ada ungkapan menarik dan masih terasa hidup dari sahabat yang karib disapa Ibnu Mas’ud tersebut:

قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ إِنَّكُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيرٌ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيلٌ خُطَبَاؤُهُ… وَسَيَأْتِي مِنْ بَعْدِكُمْ زَمَانٌ قَلِيلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيرٌ خُطَبَاؤُهُ

Ibnu Mas’ud berkata, “Kalian hidup di zaman yang terdapat banyak ulama dan sedikit yang pintar berkoar-koar… Dan nanti setelah kalian akan ditemui zaman yang sedikit ulama namun banyak yang pintar berkoar-koar.”

Rupanya, sinyalemen Ibnu Mas’ud puluhan abad lalu itu terbukti sudah. Di era medsos, semakin sulit kita menemukan informasi yang benar-benar valid. Setiap orang berebut melontar pendapat. Apalagi, kalau sudah menyangkut urusan politik dan aliran keagamaan. Yang sekolah tidak tamat mendadak berkomentar bagai pakar. Yang mengaji saja megap-megap tiba-tiba berfatwa bak ulama.

Tidak jarang, pendapat-pendapat itu dipenuhi amarah dan serapah, seolah diri sudah paling segalanya. Like dan dukungan di kolom komentar semakin membakar suasana. Nafsu pemilik akun kian melambung, karena lovers-nya yang tidak tahu-menahu ujung dan pangkal persoalan ikut-ikutan nimbrung.

“Kalau engkau melakukan kebaikan seribu kali,” tutur Emha Ainun Nadjib suatu ketika, “Jangan berharap satu orang pun memujimu. Tetapi, kalau engkau melakukan kesalahan satu kali saja, bersiaplah akan ada seribu orang mengutukmu.”

Ya, hidup di era kemajuan ini jelas tidak mudah. Kesempatan berbuat baik meruah, namun peluang berlaku jahat juga ada di mana-mana. Hanya orang-orang dengan kontrol diri benar-benar prima yang mampu terus menebar manfaat, tanpa harus terseret ikut-ikutan menyuburkan ucap dan sikap yang jauh dari manfaat.

Kita harus selalu berhati-hati. Jangan sampai terseret arus. Ingat, orang yang bikin dan turut menyebarluaskan istilah cebong, kampret, dan julukan-julukan lain untuk memberikan stigma negatif terhadap pihak yang berseberangan pandangan, haluan, aliran maupun opini pasti akan mendapatkan dosa jariah, sebagaimana hadits man sanna sunnatan sayyiatan.

Karena itu, Persyarikatan Muhammadiyah, menarik sekali, telah merumuskan panduan Akhlaqul Sosmediyah Warga Muhammadiyah, yaitu netizen Muhammadiyah dilarang keras melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Melakukan ghibah, fitnah, namimah, dan menyebarkan permusuhan.
  2. Melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan berdasarkan suku, ras, atau antara golongan.
  3. Menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala yang terlarang secara syari.
  4. Menyebarkan hoax serta informasi bohong, meskipun dengan tujuan baik.
  5. Menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai dengan tempat atau waktunya.

Semoga dapat kita perhatikan dan amalkan. Kepada Allah Swt jua kita harapkan bimbingan dan pertolongan dalam segala urusan. Ya Allah, hamba bermohon kepada-Mu  ilmu bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima (*)