Uniknya Idul Adha di Edinburgh Skotlandia: Shalat Bergelombang, Kurban Tak Perlu Repot Sembelih Sendiri

301
Pasang Iklan Murah
Keluarga besar warga Indonesia di Edinburgh saat berkumpul bersama saat Hari Raya (Rosyi for PWMU.CO)

PWMU.CO – Berada di negeri orang saat merayakan Idul Adha menjadi pengalaman unik bagi Rosyida Ariani dan keluarganya, yang hampir setahun berada di Kota Edinburgh, Skotlandia.

Ibu tiga putri yang sedang menemani suaminya, Deddy Irfandi, menempuh pendidikan Master of Science in Finance di University of Edinburgh, Skotlandia, menceritakan pengalaman tersebut kepada PWMU.CO, Kamis (23/8/18).

iklan

***

Awal-awal tinggal di negeri orang mungkin masih butuh beradaptasi, baik dengan masyarakat ataupun cuaca yang ada. Tapi tak perlu waktu lama bagi Rosyi—panggilan akrabnya—dan keluarganya untuk mengatasi hal itu. Termasuk dalam “beradaptasi” dengan perayaan Idul Adha, juga Idul Fitri beberapa waktu lalu.

Salah satu hal unik yang dia temui adalah shalat Idul Adha, yang diselenggarakan di Edinburgh Central Mosque, Selasa (21/8/18), dalam tiga gelombang. Yaitu Pukul 06.30, 08.00, dan 09.30 waktu setempat.

Tenda tempat menikmati hidangan dan aktivitas lainnya saat Ied Party (Rosyi for PWMU.CO)

Keunikan lainnya adalah adanya Eid Mubarak Celebration atau perayaan Ied penuh berkah, yang dilakukan masyarakat Muslim di Edinburgh.

Rosyi menceritakan beragam kegiatan yang diadakan saat perayaan itu, seperti adanya wahana bouncy castle, lukisan tangan hena, menggambar wajah (face painting), menyediakan aneka makanan, minuman seperti jus dan es krim, mewarnai (coloring), berbagai permainan anak-anak, dan sebagainya.

Acara-acara itu, lanjutnya, ditempatkan di sekitar halaman masjid. Tenda-tenda yang telah disiapkan, jadi tempat untuk menikmati jamuan yang ada.

“Di saat anak-anak menikmati berbagai permainan, orangtua bisa menunggu di tenda sambil berbincang-bincang dengan orangtua lainnya,” ujarnya.

Deddy Irfandi (Kedua dari kanan) saat acara Multicultural Day at Islam Festival Edinburgh (Rosyi for PWMU.CO)

Dia menjelaskan, warga Muslim dari berbagai negara berkumpul di situ. “Di antaranya berasal dari Turki, Arab Saudi, Indonesia, Palestina, Banglades, Hongaria, Malaysia, Nigeria, Sudan, Gambia, Yordania, dan Mesir,” terang dia.

Walaupun dari negara yang berbeda, ujarnya, terlihat kebersamaan di antara mereka pada setiap acara.

“Seperti sepekan yang lalu, pada saat Multicultural Day at Islam Festival Edinburgh 2018. Acara ini diadakan oleh masjid untuk memperkenalkan agama Islam yang diikuti dari berbagai negara,” ucapnya.

Keunikan lainnya, pada saat Idul Adha, tidak ada penyembelihan hewan layaknya di Indonesia. “Orang yang berkurban membeli hewan kurban melalui Halal Butcher. Pada hari H, diambil dagingnya yang sudah dipotong untuk dibagikan sendiri. Atau bisa juga melalui sebuah organisasi yang menyediakan layanan tersebut,” urainya.

Di depan Edinburgh Central Mosque. (Rosyi for PWMU.CO)

“Seperti kurban kemarin yang ditujukan untuk saudara kita di Palestina,” tambah ibu dari Nayla Aqila Shabrina, Nasyila Azalea Syafa, dan Nadine Aisyah Safitri.

Saat Eid Mubarak Celebration, putri pertama dan kedua Rosyi mencoba face painting. “Anak-anak yang hendak melakukan face painting memberitahukan kepada pelukis, karakter apa yang mereka inginkan,” ungkapnya.

Setelah itu, sambung dia, pelukis menggambar wajah mereka dengan bahan yang aman untuk kulit dan mudah dihapus.

Face painting, salah satu kegiatan dalam Ied Party di Edinburgh (Rosyi for PWMU.CO)

“Saat itu, Nayla minta langsung dihapus,” ujarnya sambil tertawa. Ternyata anak pertamanya malu jika karakter yang telah dilukis di wajahnya terlalu lama dilihat orang.

Bagi Rosyi yang menyukai pizza ini, pengalaman berhari raya di negeri orang seperti itu menyenangkan. “Jika setiap hari jarang bertemu sesama Muslim di jalanan, hari itu banyak sekali muslim terlihat berjalan menuju masjid,” ungkapnya.

“Semua terasa seperti saudara, saling cipika cipiki sampil mengucapkan Ied Mubarak, adem banget,” tambahnya.

Rosyi menyampaikan, untuk menghilangkan rasa kangen dengan kampung halaman, di Edinburgh juga diadakan halal bi halal keluarga Indonesia. Masing-masing keluarga membawa makanan yang telah ditentukan menunya untuk dimasak di rumah masing-masing kemudian dibawa untuk dimakan bersama.

“Kita tetep ngopor (masak opor) di sini, walapun nggak mudik tapi lumayan terobati dengan kumpul dan makan bersama, ” tutupnya mengakhiri cerita. (Anik)

Rosyida Ariani (kiri) dan ketiga putrinya bersama Isra, teman dari Bangladesh (Rosyi for PWMU.CO)