Agenda Hijrah Budaya Bangsa: Dari Model Pendidikan Inside-in ke Inside-out

81
Hikmah Press
Daniel Mohammad Rosyid. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Untuk memanen bonus demografi, kita perlu segera dengan sungguh-sungguh memeriksa kembali praktik pendidikan kita.

Sistem Pendidikan Nasional kita telah dimonopoli secara radikal oleh persekolahan. Wajib belajar diartikan sebagai wajib sekolah. Pendidikan menjadi barang langka yang mungkin makin bermutu tapi jelas makin tidak relevan dan tidak bermakna bagi warga negara.

iklan

Padahal pendidikan tidak bisa dan tidak boleh dipersempit menjadi sekadar persekolahan belaka. Kita memang lebih lama bersekolah tapi makin tidak terdidik. We are more schooled but less educated, if not miseducated.

Persekolahan telah dirumuskan sebagai instrumen teknokratik bukan sebuah strategi kebudayaan. Padahal proklamasi kemerdekaan mengandaikan syarat budaya menjadi bangsa merdeka. Dalam praktik, persekolahan adalah pelaksana proses pembaratan nekolimik yang menyuburkan budaya hidup berutang yang hyper-consumptive.

Monopoli persekolahan membuat sistem pendidikan kita secara fisik membengkak, namun secara budaya justru makin kerdil dan terjajah. Ini telah terbukti dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk kehidupan berdemokrasi yang makin transaksional dan tidak beradab, jauh dari musyawarah bil hikmah.

Pendidikan tidak bisa diartikan sebagai persekolahan karena pendidikan untuk semua hanya mungkin diwujudkan jika dilakukan oleh semua, terutama oleh keluarga dan juga masyarakat. Education for all is only possible by all.

Persekolahan hanya bersifat komplementer dan suplementer. Ki Hadjar menyebut tiga pilar pendidikan: keluarga, masyarakat dan perguruan. It takes a village to raise a child. Persekolahan terbukti menjadi model pendidikan yang makin tidak efektif dan sekaligus makin tidak efisien.

Pendidikan juga tidak boleh dikerdilkan dengan memperbesar persekolahan karena pendidikan sesungguhnya adalah tanggung jawab utama keluarga. Hanya keluarga yang mampu mendidik adab dan akhlak warga muda karena sikap jujur, amanah, peduli, dan setia hanya mungkin diajarkan melalui teladan sehari-hari oleh orang tua dalam keluarga.

Guru di sekolah tidak akan pernah mampu melakukannya secara efektif. Praktik adab dan akhlak juga penting dilakukan dalam keluarga justru untuk memperkuat ikatan keluarga. Bahkan korban terbesar dari monopoli persekolahan adalah keluarga.

Persekolahan dengan semua formalismenya, dan obsesinya pada standar mutu adalah instrumen teknokratik untuk menyediakan tenaga kerja trampil yang patuh dan berdisiplin, bukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Secara perlahan dan sistemik, persekolahan telah menghilangkan jiwa merdeka murid yang penting bagi penumbuhan kreativitas. Yang terjadi adalah sebuah persekolahan paksa massal (forced mass schooling) bersifat outside-in yang tidak bermakna.

Di sekolah mungkin murid belajar banyak hal, kecuali menjadi dirinya sendiri yang merdeka. Padahal jiwa merdeka adalah prasyarat kehidupan yang cerdas dan lahan subur bagi sikap jujur, amanah, dan peduli, serta setia.

Kita memerlukan pendidikan yang inside-out, lebih mengutamakan relevansi—bukan mutu—agar lebih bermakna dan menyuburkan jiwa merdeka. Ini hanya bisa dilakukan secara inside-out dalam satuan edukatif berskala kecil, terutama keluarga, tidak secara massal.

Kemudian masyarakat memberikan lingkungan yang sehat di mana praktik adab dan akhlak mulia dapat dibuktikan dan dihargai dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan persekolahan mengambil peran memberikan ketrampilan untuk hidup secara produktif.

Kegiatan belajar yang tidak dapat secara efektif diselenggarakan oleh keluarga dapat dilakukan secara kolaboratif melalui Self Organized Learning Environment (SOLE) berbasis komunitas seperti masjid.

Kegiatan belajar melalui praktik, membaca, menulis dan berbicara dapat diselenggarakan secara non-formal dengan kurikulum yang lentur dan luwes sesuai kebutuhan komunitas tersebut. Simpul-simpul SOLE dan keluarga diorkestrasikan dalam sebuah learning web dalam satu kawasan tertentu.

Untuk menyongsong masa depan dalam waktu dekat ini, dan memastikan panen bonus demografi, kita perlu menyediakan prasyarat budaya bagi bangsa merdeka. Untuk itu kita perlu segera berhijrah dari persekolahan paksa massal berorientasi mutu dan outside-in ke jejaring belajar yang lentur dan luwes yang mengutamakan relevansi yang inside-out dengan keluarga sebagai SOLE terkecil. (*)

Mataram, 13 September 2018
Kolom oleh Daniel Mohammad Rosyid, Guru Besar ITS Surabaya.