Basis Massa Ideologis Bubar, Suara Swing Voters Menentukan Kemenangan Pemilu

154
Hikmah Press
sgp/pwmu.co
Aribowo narasumber diskusi politik di PWM Jatim, sabtu (6/10/2018).

PWMU.CO-Reformasi 1998 telah mengubah budaya dan perilaku politik masyarakat. Suara rakyat dalam Pemilihan Umum (Pemilu) tidak lagi berbasis ideologis. Suara menentukan berasal dari kelompok besar pada kelas menengah yang disebut swing voters atau pemilih mengambang.

Demikian pendapat pakar politik dari FISIP Universitas Airlangga yang disampaikan dalam diskusi politik di Kantor PWM Jatim, Sabtu (6/10/2018) malam. Narasumber lain yang hadir Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Dr Abdul Mu’thi dan dosen UMSurabaya Prof Dr Zainuddin Maliki.

iklan

Budaya, kata Aribowo, terbentuk sebagai respon atas krisis. Contoh Reformasi 1998, situasi krisis telah menciptakan perilaku politik baru yang mengubah aturan-aturan. Misalnya UUD 1945 diamandemen, pemilihan presiden menjadi langsung.

”Perkembangan budaya sosial politik ini menjadikan pemilih lebih banyak bersikap rasional, basis massa ideologi makin cair, kelompok swing voters yang bersikap menunggu perkembangan politik sangat menentukan suaranya dalam kemenangan dalam Pemilu,” kata Aribowo.

Swing voters adalah perilaku pemilih yang bisa berubah atau berpindah pilihan partai atau calon presiden dan legislatif dari satu Pemilu ke Pemilu berikutnya. Kelompok ini bisa menjadi golput jika peserta pemilu tidak mampu meyakinkan untuk memilihnya.

Perkembangan internet lewat HP menjadikan masyarakat mudah mendapatkan informasi apa pun dari beragam sumber. Opini bisa dikonsep dan disebarkan lewat dunia internet yang akhirnya menguasai pasar perseorangan warga negara.

”Contoh Ustadz Abdul Shomad populer lewat HP disebarkan ke media sosial dan memiliki pengaruh luar biasa. Kalau dia mau menjadi juru kampanye capres pasti banyak yang mengikutinya sekarang ini,” papar dia.

Dominannya media sosial ini pun membuat label dan definisi sesuatu bukan lagi ditentukan penguasa. Misalnya, konsep ulama sekarang sudah bergeser bukan lagi orang yang menguasai agama dari pesantren tapi bisa saja dari sekolah umum.

”Kiai yang dulu menempati posisi sakral berubah jadi profan. Definisi ulama atau kiai bergeser sesuai yang dikehendaki masyarakat. Jika tidak dikehendaki pasti ditinggal,” tuturnya.

Karena perkembangan perilaku pemilih seperti ini, ujar Aribowo, calon presiden maupun calon legislatif harus mampu meyakinkan masyarakat yang mulai rasional ini terutama kelompok swing voters di hari terakhir pemilihan. Media sosial yang menyebarkan informasi di luar media utama sangat memengaruhi pilihannya. (sgp)