Jaga Ritme Penanggulangan Bencana yang Panjang, Muhammadiyah Lakukan Pergiliran Relawan

57
Hikmah Press
Tampakbeberapa relawan Muhammadiyah Jatim yang bersiap meninggalkan Kota Palu. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Setelah manjalankan misi kemanusiaan membantu korban gempa dan tsunami di Palu-Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) selama 10 hari, tim advance MDMC (Muhammadiyah Disarter Managemen Center) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur akhirnya ditarik pulang dari Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Selasa (9/10/18).

Kesepuluh relawan MDMC PWM Jatim yang berangkat tanggal 1 Oktober 2018 ditarik pulang karena masa tugasnya telah berakhir. Mereka adalah Zaenal Abidin, Karsim, M Agus Asyari, Rounaqul Fahmi, dan Ali Efendi. Kemudian dr Dentino Willi, Syafii Abdul Karim, Rudianto, Dini Novianti dan dr Zuhdiyah Nihayati.

iklan

Ketua MDMC PWM Jatim M Rofii menjelaskan, penarikan ini dilakukan tidak lain karena masa tugas kesepuluh relawan itu telah berakhir. Juga untuk menjaga ritme penanggulangan bencana yang mengharuskan ada rolling atau pergiliran relawan.

“Kalau relawan evakuasi bertugas lebih dari dua pekan, maka secara psikologi itu tidak bagus. Relawan dikhawatir gampang stres, sensitif, dan lainya. Kecuali relawan bagian logistik, administrasi, dan psikososial yang bisa bertugas lama,” jelasnya saat dihubungi PWMU.CO, Rabu (10/10/18).

Sebagai gantinya, PWM Jatim melalui Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) dan MDMC yang disokong penuh oleh Lazismu memberangkatkan delapan relawan medis yang berasal dari RS UMM (1 dokter dan 3 perawat) dan RS Ahmad Dahlan Kediri (1 dokter dan 3 perawat).

Delapan relawan itu berangkat menggunakan penerbangan komersil Surabaya-Palu, Sulteng, Selasa (9/10/2018) pukul 09.00 WIB.

Selanjutnya, sebut Rofii, PWM Jatim melalui MDMC juga sudah menyiapkan 10 relawan psikososial dari Universitas Muhamamdiyah Sidoarjo untuk dikirim bertugas di Palu. Lalu 10 relawan bidang logistik dan 4 relawan untuk managemen poskor.

“Para relawan itu akan diberangkatkan tanggal 15 Oktober 2018 dengan masa tugas tugas bulan,” terang dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya ini.

Rofii menggungkapkan, ada beberapa cacatan heroik yang telah ditorehkan oleh relawan MDMC Jatim selama bertugas 10 hari di Palu. Mulai dari mendirikan klinik darurat, memberi pelayan kesehatan mobile, bersama dengan TNI AD melakukan pelayanan kesehatan di daerah terisolir menggunakan helikopter, hingga rela berjalan kaki ke pos pengungsi yang berlokasi di perbukitan untuk droping logistik sekaligus melakukan pelayanan kesehatan buat warga korban gempa bumi dan tsunami di Palu, Donggala, dan Sigi, Sulteng.

“Kami mengapresiasi setinggi-tingginya atas kerja para relawan yang telah dengan baiknya menjalakan misi kemanusiaan di Sulteng. Semoga ini menjadi catatan amal baik buat mereka. Terima kasih,” tandasnya. (Aan)