Prof Zainuddin Ajak Tiru Lebah pada Empat Kebaikannya saat Bekerja, Minus Cara Antre

229
Hikmah Press
Prof Zainuddin Maliki di hadapan jamaah Masjid At Taqwa Menganti. (Azka/PWMU.CO)

PWMU.CO – Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Prof Dr Zainuddin Maliki MSi mengajak umat Islam belajar dari dua serangga yang diabadikan sebagai nama surat Alquran, yaitu lebah (Annahl) dan semut (Annaml).

“Maksudnya oleh Allah kita disuruh belajar dari semut dan belajar dari lebah,” ujarnya saat mengisi Pengajian Ahad Pagi di Masjid At Taqwa, Wisma Sidojangkung Indah, Menganti, Gresik, (7/10/18).

iklan

“Apa yang kita pelajari dari lebah?” tanyanya pada 200-an jamaah yang memadati masjid. Menurut Prof Zainuddin—sapaannya—dari lebah manusia bisa belajar bagaimana cara mencari makan alias bekerja.

Ada empat hal menarik yang diungkap Penasihat Dewan Pendidikan Jawa Timur itu tentang cara lebah mencari makanan. “Itu makanannya lebah itu apa,” tanyanya mengawali penjelasan.

Ternyata makanan lebah berasal dari bahan-bahan yang baik, yaitu nektar dan serbuk sari yang terdapat dalam bunga. Beda dengan semut yang mengambil sisa makanan atau bangkai. Ini pelajaran pertama dari lebah.

Kedua, kehadiran lebah saat mencari makanan pada bunga itu sama sekali tidak merugikan. Sebaliknya malah menguntungkan karena membantu proses pembuahan tanaman.

Jadi, ujarnya, lebah datang ke situ dapat makanan, yang didatangi berterima kasih. “Ini yang harus dicontoh kalau kita itu bekerja. Di tempat kerja, yang didatangi berterima kasih,” jelasnya.

Calon Anggota DPR RI dari Partai Amanant Nasional Dapil Gresik-Lamongan itu lalu mengaitkan soal simbiosis mutualismen lebah-bunga dengan berita-berita tentang banyaknya tenaga asing yang masuk ke Indonesia—bahkan ada yang dengan cara ilegal.

“Orang Indonesia sendiri cari pekerjaan susah. Tapi pekerja ini datang begitu mudah dapat. Kita terima kasih apa ndak dengan dia yang datang itu?” tanyanya pada hadirin.

Jamaah pun menjawab serempak, “Ndaaaakkk.”

“Kita tidak terima kasih karena mereka datang bukan membantu kita yang ada di sini malah mengambil peluang dan kesempatan yang seharusnya kita sendiri dapat,” urainya.

Pelajaran ketiga, lebah itu mengolah manakan di tempat dan dengan cara yang bersih. “Rumah lebah itu steril Bapak-Ibu. Bersih. Jadi kalau madu diproduksi langsung kita konsumsi, dijamin sehat,” kata dia.

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya itu ingin menegaskan, agar dapur tempat rumah tangga memasak makanan juga harus bersih, sebersih sarang madu.

“Tapi orang Indonesia kalau punya rumah yang bersih itu cuma ruang tamu. Dapurnya? Kamar mandinya? Kamar tidurnya,” tanyanya.

Prof Zainuddin Maliki. (Azka/PWMU)

Menurut Zainuddin dalam ilmu sosiologi ada teori tentang dua wajah pada diri manusia, yaitu wajah depan dan wajah belakang.

“Wajah depan itu adalah wajah yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Wajah belakang, wajahnya sendiri yang orang lain tidak perlu tahu,” jelasnya.

Nah, sambung dia, rumah kita ini juga begitu. Kita olah dengan prinsip wajah depan dan wajah belakang. “Wajah depan itu ruang tamu. Oh bersih itu. Dipel terus, dikasih hiasan, dikasih gambar-gambar,” sindinya.

Bagaimana dengan wajah belakang? Zainuddin memberi contoh tempat tidur, dapur, dan kamar mandi sebagai wajah belakang. “Tempat tidur, baju seminggu kemarin dipakai masih nyantol di belakang pintu. Kalau dibuka nyamuknya brul,” kata dia disambut geerrrr jamaah.

Menurutnya, wajah belakang dibiarkan begitu karena orang lain tidak ada yang tahu. “Kalau orang lain tahu, malu,” ucapnya.

Demikian juga dengan penampilan manusia, sering berbeda antara wajah depan dengan belakang. “Saya di sini juga wajah depan saya kelihatan baik-baik. Keliatan sumeh kan ya? Lah ini wajah depan saya,” ujarnya memberi contoh.

Tapi, lanjutnya, Bapak-Ibu belum tahu siapa saya. Tak simpen sifat watak saya yang sesungguhnya. Orang lain gak boleh tahu.

Zainuddin lalu menegaskan, “Jadi kalau bisa antara wajah depan dan wajah belakang itu sama. Apa yang dikatakan sama dengan apa yang dikerjakan.”

Pelajaran keempat dari lebah adalah dihasilkannya madu yang punya manfaat bagi makhluk lain. “Lebah itu luar biasa. Mencari (makanan)-nya di tempat yang di mana ia mencari, tempat itu berterima kasih. Dibawa ke rumah, diolah dengan cara yang bersih. Hasilnya madu, sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

“Maka tirulah lebah!” ajaknya pada jamaah. “Khairunnas an fauhum linnas.
Jadilah manusia yang mempunyai manfaat. Bukan hanya untuk dirinya tapi manfaat bagi orang lain.”

Zainuddin menekankan, semakin banyak orang lain menerima manfaat dari kita, berbahagialah kita. “Kalau kita merasa hidup kita tidak ada manfaatnya bagi orang lain, sia-sialah hidup kita,” pesannya.

Nah, satu hal yang tidak boleh ditiru dari lebah adalah soal antre. “Yang kita pelajari dari lebah itu bukan cara ngantrenya,” katanya.

Soal antre? Prof Zainuddin mengajak jamaah belajar pada semut yang tertib dan teratur. Beda dengan lebah yang nggrumbul, nggak sabaran! (MN)