Din: AMM Diminta Ikut Menyuarakan Perdamaian Dunia

80
Hikmah Press
Aini/pwmu.co
Prof Din Syamsuddin, tengah, menyampaikan materi dalam Short Diplomatic Course.

PWMU.CO -Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) diharapkan ikut peduli dan terlibat menyuarakan perdamaian dunia seperti yang sudah dikerjakan oleh persyarikatan selama ini.

Hal itu ditegaskan Prof Dr Din Syamsuddin dalam Short Diplomatic Course di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Kamis (11/10/2018). Acara ini digelar oleh Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PP NA).

iklan

“Muhammadiyah selama ini banyak terlibat dalam upaya perdamaian dunia, AMM diharapkan menjadi proksi persyarikatan,” kata Din Syamsuddin.  ”AMM harus peduli. AMM harus tahu. AMM harus terlibat. AMM harus menyiapkan diri untuk melanjutkan. We are on the right track,” tegasnya.

Menurut pria kelahiran Sumbawa ini, ada empat modal menjalin hubungan antarnegara dan mengambil peran di dalamnya.

“Punya niat atau tekad. Jangan ogah-ogahan. Kecenderungan batin harus ada di sini. Ini hal pertama yang penting. Kedua, harus punya bakat atau minat untuk berhubungan dengan banyak orang. Diplomat nggak boleh pendiam,” jelasnya.

Modal ketiga, sambung dia, memenangkan kepentingan.  “Win our interest. Harus pandai ngomong. Ya harus berhati-hati juga, jangan sampai salah bicara malah mengakibatkan perpecahan. Terakhir yang tidak kalah penting adalah menguasai ilmu alat. Bahasa asing mutlak harus mahir,” tutur ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015.

Dia menambahkan, Muhammadiyah bisa terlibat dalam perdamaian dunia karena empat alasan.  Pertama, Muhammadiyah adalah organisasi besar. ”Dengan dukungan anggota yang besar inilah, Muhammadiyah punya kekuatan sosial yang berpengaruh besar pula,” ujarnya.

Pengalaman sejarah yang panjang menjadi alasan kedua, sambung Din, mengapa Muhammadiyah bisa mengambil peran perdamaian dunia.  “Satu abad Muhammadiyah dinilai telah melewati berbagai perjuangan dengan era yang berbeda-beda,” katanya.

Ketiga, Muhammadiyah bisa diterima oleh kalangan Islam lain di Indonesia.  Alasan keempat, memiliki political liberacy di pemerintah Indonesia.

Kegiatan yang digelar dua hari ini mengambil tema Strengthening Nasyiatul Aisyiyah to Promote the Peaceful World ini berlangsung Kamis hingga Sabtu, 11-13 Oktober 2018. (Ria Eka Lestari)