TKI asal Godog Lamongan Sumbangkan 220 Dos Mi Instan untuk Korban Gempa dan Tsunami

430
Hikmah Press
Menyiapkan mi instan yang akan disumbangkan ke Sulawesi Tengah. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Kepedulian warga Muhammadiyah pada korban bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah terus bermunculan.

Kali ini dilakukan oleh Syamsuddin, warga Desa Godog, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan. Sebanyak 220 dus mi instan dia sumbangkan melalui Lazismu Lamongan, Jumat (5/10/18).

iklan

“Hati ini terenyuh melihat saudara kita yang sedang mengalami bencana,” kata Syamsuddin pada PWMU.CO lewat pesan WhatsApp.

Bantuan senilai Rp 15 juta itu dia serahkan pada Lazismu Lamongan di rumahnya Desa Godog melalui temannya Nastainul Hasan. Dia senduri masih berada di Malaysia.

Selain sebagai bentuk empati, bantuan tersebut adalah ekspresi rasa syukur atas nikmat Allah yang dicurahkan kepadanya.

Syamsuddin bersyukur karena saat kali pertama merantau ke Malaysia 15 tahun lalu, dia hanyalah seorang TKI biasa. Tapi kini dia sukses menjadi kontraktor bangunan.

Syamsuddin. (Istimewa/PWMU.CO)

Desa Godog memang dikenal sebagai kampung tenaga kerja indonesia (TKI) karena banyak warganya yang mengadukan nasib menjadi buruh migran di Negeri Jiran Malaysia.

Hebatnya, perantauan itu berimbas pada peningkatan perekonomian warga Desa Godog seperti yang dialami Syamsuddin.

Desa Godog sendiri merupakan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) percontohan nasional. Pada tahun 2017 berhasil meraih Juara II Ranting Muhammadiyah terbaik se-Indonesia yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Direktur Badan Eksekutif Lazismu Lamongan Irvan Shaifullah yang menerima satu pickup Colt mi instan itu ikut senang.

Dia mengaku kagum pada Syamsuddin, yang dari seorang TKI menjadi pengusaha dan secara pribadi ikut menyumbangkan sebagain rezekinya untuk para korban bencana.

“Semoga dapat meringankan beban saudara yang sedang mendapatkan ujian di Sulawesi Tengah,” harapnya.

Dia menjelaskan, bantuan tersebut akan dikirim ke Lazismu Jatim untuk diintegrasikan bersama bantuan lainnya.

Menurut Nastainul Hasan saat ini Syamsuddin masih bolak-balik Indonesia-Malaysia. “Terkadang satu atau dua bulan di Malaysia. Lalu pulang beberapa minggu di sini. Terus balik ke ke Malaysia lagi. Tergantung proyek di sana,” ujarnya. (Nasiruddin Wafiq)