Testimoni Relawan Muhammadiyah di Palu: Awal Datang seperti Film Zombie, Kacau dan Mencekam karena Banyak Penjarahan

537
Hikmah Press
Dari kiri: Rudianto, Dini Noviani, dan M Rofii. (MN/PWMU.CO)

PWMU.CO – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada 10 relawan gelombang pertama yang telah bertugas dengan baik menjalankan misi kemanusiaan di Palu, Donggala, dan Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng).

PWM Jatim melalui MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Canter) dan Lazismu mengundang mereka untuk memberikan testimoni di Gedung Muhammadiyah Jawa Timur, Jalan Kertomenggal IV/1 Surabaya, Jumat (13/10/18).

iklan

Dua relawan, Rudianto dan Dini Noviani, hadir dalam kesempatan tersebut. Keduanya menceritakan apa yang dialami selama sepuluh hari bertugas di Sulteng di depan Wakil Ketua PWM Jatim Nur Cholis Huda, Sekretaris PWM Jatim Ir Tamhid Masyhudi, Ketua MDMC Jatim M. Rofii, Ketua Lazismu Jatim drh Zainul Muslimin, bersama ketua dan sekretaris majelis dan lembaga PWM Jatim.

Dava—sapaan akrab Rudianto—menuturkan, awal keberangkatan tim tidak menemui kendala berarti sampai tiba di Kantor Pimpinan Daerah (PDM) Mamuju, Sulawesi Barat, Senin (1/10/18) pukul 20.00 WITA.

“Setibanya di Mamuju kami bergabung dengan relawan Muhammadiyah lainnya. Kami menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan untuk aktivitas tanggap darurat di Palu,” terangnya.

Satu jam kemudian, tepatnya pukul 21.00, relawan Muhammadiyah Jatim dan lainnya berangkat menaiki lima armada menuju Palu. “Selepas Mamuju jalur masih aman terkendali. Listrik masih menyala. Hanya saja kita harus melalui perkebunan kelapa sawit. Kita sempat istirahat sebentar di masjid untuk menunaikan shalat dan kemudian bergegas berangkat,” tuturnya.

Suasana porak-poranda baru terasa memasuki perbatasan Mamuju-Donggala. Suasana semakin mencekam setelah tim tiba di Polres Pasang Kayu pukul 22.00. Sebab setiap relawan diharuskan untuk melapor ke pos agar mendapat pengawalan aparat. Terutama relawan yang datang membawa logistik bantuan. “Hal itu lantaran situasi sedang marak aksi perjarahan oleh warga yang sedang membutuhkan bantuan,” kisahnya.

Sayangnya, ungkap Dava, pengawalan dari aparat kepolisian sudah berakhir pada pukul 16.00. “Sehari aparat kepolisian hanya tiga kali melakukan aktivitas pengawalan, yakni pagi hari pukul 08.00-09.00. Lalu siang pukul 13.00-14.00, dan terakhir sore pukul 16.00. Selepas itu relawan disarankan untuk menunggu di pos,” paparnya.

Ketua Lazismu Jatim Zainul Muslimin (kanan) saat membuka acara. (MN/PWMU.CO)

Melihat situasi itu, relawan pun berkoordinasi dan bermusyawarah sebentar untuk mengambil keputusan. “Apakah harus menunggu hingga pagi untuk mendapat pengawalan atau terus melanjutkan perjalan?” ujarnya.

Akhirnya, rombongan relawan Muhammadiyah Jatim, MDMC Mamuju, dan lainnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Universitas Muhammadiyah Palu—lokasi Pos Koordonasi MDMC Indonesia tanpa pengawalan dari aparat kepolisian.

Relawan pun memberanikan diri menerobos gelap-gulitanya malam tanpa ada penerangan sama sekali. Itu lantaran kondisi listrik di sana padam pascagempa dan tsunami melanda Sulteng.

Sepanjang jalan itu, cerita Dava, banyak ditemui kondisi jalan yang retak dan tenda pengusian. Selain itu relawan juga dibayangi rasa was-was akan aksi penjarahan oleh warga.

“Kami berangkat malam itu juga untuk menghindari aksi penjarahan dari warga. Kami dapat informasi agar sebaiknya berangkat di atas jam 00.00 dan sebelum Subuh harus sudah tiba di Palu. Kami pun memutuskan melanjutkan perjalanan dengan modal bismillah,” tutur Dava.

Setibanya di Unismuh Palu pukul 01.00, relawan langsung disambut oleh Heru, komandan Poskor. Setelah itu, cerita dia, tim beristirahat sejenak untuk berkoordinasi di pagi harinya.

“Ketika sedang kordinasi itu gempa susulan menguncang. Kami pun bergegas menjauh dari dari bangunan,” kisahnya.

Tak ayal, perasaan was-was pun menghinggapi Dava dan rekan relawan lainnya. “Nah, kami datang langsung disambut gempa. Jadinya setiap malam hari kita tidurnya di teras,” imbuhnya.

Nur Cholis Huda (kedua dari kanan) saat memberi apresiasi pada relawan. (MN/PWMU.CO)

Yang membuat miris, saat Dava mengetahui persediaan logistik di Poskor minim sekali. Hanya menyisakan satu kali makan buat relawan. “Untungnya kami membawa bekal logistik cukup untuk bertahan hidup tiga hari dan selamat dari penjarahan,” jalasnya.

Selepas koordinasi itu, para relawan kemudian menjalankan tugas sesuai dengan tupoksinya masing-masing. “Saya kebagian tugas sebagai manajemen logistik di Poskor. Saya pun mulai mendata warga yang mengungsi di sekitar poskor dan memetakan kebutuhannya,” cerita pria asal Lumajang ini.

Awalnya, Dava mengaku sulit mengatur warga yang mengungsi di sekitar Poskor karena situasi yang agak kacau seiring maraknya aksi penjarahan karena warga sangat membutuhkan bantuan. Namun, dengan langkah persuasif akhirnya bisa memahamkan warga untuk bersama-sama lepas dari situasi kurang kondusif itu.

“Saya bilang kepada warga, kalau warga bisa menjamin relawan aman dari aktivitas penjarahan dan lainnya, insyaallah bantuan akan banyak berdatangan,” katanya.

Diva mengatakan, “Jika bantuan dari Jawa dan lainnya datang tanpa ada penjarahan, kita akan bisa dropping logistik ke pos-pos pengungsi dan juga bisa memberikan pelayanan kesehatan kepada warga. Alhamdulillah, warga paham itu.”

Situasi akhirnya berangsur-angsur normal. Warga pun mulai proaktif. Bahkan, warga ikut terlibat mengawal datangnya logistik dan ikut bongkar muat logistik bantuan yang tiba di Poskor.

“Warga pun banyak yang berterima kasih kepada relawan Muhammadiyah karena penyaluran bantuan kita tidak ribet. Warga tidak perlu menunjukan KTP, KK atau lainnya. Cukup tulis nama dan butuh apa kita kasih. Tentunya kalau ada logistiknya,” ungkapnya.

Sebab, lanjut Dava, bantuan yang datang ke Poskor langsung didistribusikan kepada warga. “Sempat gudang kita kosong setibanya bantuan kita terima,” tegasnya.

Dini sedang menyampaikan testimoni. (Aan/PWMU.CO)

Dava berharap, kondisi Palu segera bisa normal kembali sehingga warga bisa beraktivitas lagi. “Warga setempat harus bangkit dari musibah ini. Jangan hanya mengandalkan bantuan dari luar,” tandasnya.

Sementara itu, Dini mengungkapkan, kondisi Palu di awal kedatangan relawan seperti halnya di film Zombie. Situasinya, sangat mencekam dan kacau balau lantaran banyak aksi penjarahan dan lainnya. Ditambah kondisi listrik padam.

“Kita (relawan) dihantui oleh aksi penjarahan warga. Dikejar-kejar, dihadang dan lainnya. Mirip di film Zombie,” terang alumnus Psikologi UMM ini.

Di saat yang sama, lanjut Dini, kondisi Palu sebagian besar dipenuhi oleh puing-puing bangunan dan mayat. “Sebagian besar bangunan rata tinggal puing-puing. Bau mayat menyengat dan lainnya,” sebut Guru SDM 4 Batu ini. (Aan)