Tahun 2020 Yang Survive adalah Yang Berpikir Kritis

142
Hikmah Press
Irfan Amalee dalam Short Diplomatic Course. (Aini/PWMU.CO)

PWMU.CO – Tanpa disadari, setiap hari manusia di-framing oleh suatu media penggiring publik yang menyajikan berita sepotong-sepotong: yang buruk dicitrakan baik, yang baik dicitrakan buruk.

Penggagas Peace Generation Irfan Amalee mengingatkan hal itu dalam Short Diplomatic Course, Kamis (11/10/18).

iklan

“Untuk menjadi agen perubahan, framing skill sangat dibutuhkan. Ketrampilan melihat sisi kebaikan dan menyampaikannya adalah modal diplomasi yang baik,” tuturnya.

Dalam acara yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PP NA) di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat itu, Irfan—sapaannya—berpendapat kekerasan di Indonesia disebabkan tiga hal.

“Pertama adalah kurangnya cara berpikir kritis, disusul ketidakmampuan diri untuk berempati, dan fanatisme yang berlebihan. Maka bagi saya, inti dari perdamaian itu adalah critical thinking,” ujarnya.

Pria yang memulai karirnya sebagai Editor Divisi Anak dan Remaja (DAR) Mizan itu menegaskan dalam 10 keterampilan utama tahun 2020, critial thinking menempati posisi kedua setelah complex problem solving.

“Bahkan, posisi critical thinking berada di atas creativity. Ini berarti, di tahun 2020 esok, orang yang bisa survive adalah orang yang punya critical thinking,” ungkapnya.

Menyadari betapa pentingnya critical thinking sebagai bekal pembentukan karakter cinta damai, Irfan yang pernah menjadi CEO Pelangi Mizan di usia 30 tahun ini menulis buku seri Cerita Bolak-Balik untuk anak.

“Buku ini mengasah kemampuan critical thinking anak usia Sekolah Dasar atau SD. Saya ingin membentuk masyarakat yang damai, empati, dan toleransi melalui buku ini,” jelas Irfan sembari menunjukkan bukunya di hadapan peserta pelatihan.

Selain buku seri Cerita Bolak-Balik, Penulis buku Ensiklopedi Bocah Muslim itu juga menciptakan board game yang bisa mengajarkan perdamaian untuk anak usia SD hingga dewasa.

Ngajarin perdamaian bisa dengan boardgame. Boardgame for peace. Kita perlu peluang untuk menciptakan percakapan. Dan boardgame bisa menjadi medianya,” ucap Alumnus Pondok Pesantren Darul Arqam Garut 1990-1996 itu.

Menurutnya, efektifitas sebuah tools sebagai alat belajar mampu dia buktikan dari 200 kabupaten/kota dan beberapa negara yang sudah dia kunjungi sebagai media makers peace generation.

“Anak-anak muda sebagai agen of peace akan mengalami perubahan sikap berpikir saat memainkan boardgame ini. Mereka menemukan nilai kerja sama, empati, dan perdamaian. Sehingga kekerasan akan tergantikan dengan bibit-bibit perdamaian,” pesannya. (Ria Eka Lestari)