Bangsa Ini Butuh Generasi seperti yang Didoakan Nabi Zakaria

205
Pasang Iklan Murah
Nadjib Hamid saat menyampaikan materi. (Ian Ianah/PWMU.CO)

PWMU.CO – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim Nadjib Hamid Msi menyatakan, bangsa ini butuh generasi yang sesuai dengan doa Nabi Zakaria, yaitu generasi yang istiqamah dalam beragama dan akhlaknya terjaga.

Nadjib Hamid menyampaikan hal itu saat memberikan materi Parenting Education bertema “Mendidik Anak dengan Kasih, Modal Pengembangan Karakter Anak” yang diadakan oleh SD Muhammadiyah 2 Gresik di Aula Faqih Usman sekolah berjulukan SD Muda Ceria itu, Sabtu, (13/10/18).

iklan

Menurut Nadjib, orangtua saat ini mengalami masa-masa yang sangat berbeda dengan ketika dulu mereka menjadi anak.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa pesatnya, selain mendukung kehidupan menjadi lebih mudah, tapi juga membawa sisi negatif. Dan itu menjadi tantangan orangtua zaman sekarang.

Karena itu, Nadjib mengajak orangtua untuk serius memperhatikan anak-anaknya, termasuk dengan banyak mendoakannya sebagaimana dilakukan oleh para nabi.

Nadjib Hamid berfoto santai selesai acara parenting di gasebo SD Muda Ceria (Ian Ianah/PWMU.CO)

“Tentunya semua yang di sini sepakat dengan doa Nabi Zakaria yang termaktub dalam Surat Maryam Ayat 4-5,” ujarnya sambil mengutip dua ayat itu.

“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban. Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.

Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul. Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera.”

Menafsirkan ayat tersebut, Nadjib mengatakan, Nabi Zakaria galau dan khawatir terhadap generasi penerusnya; prihatin akan anak turunnya.

Menurutnya, dalam konteks kekinian, Doa Nabi Zakaria kepada Allah itu, bisa ditafsirkan: “Ya Allah situasi sudah sedemikian kompleknya namun belum nampak generasi baru yang bisa menyelesaikan problem baru ini, sementara istriku mandul.

Maka anugerahilah aku generasi penerus yang mampu mewarisi tugasku, misiku, dan juga mewarisi tugas kenabianku yang nantinya bisa memimpin negeri ini. Dan jadikanlan generasi baru itu generasi yang Engkau ridhai.”

Semua orangtua, kata Nadjib, pasti mempunyai cita-cita dan selalu berdoa agar kelak anaknya bisa lebih baik dari orangtuanya. “Saya rasa semua orangtua setuju dengan pernyataan ini,” ucap calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Jawa Timur nomor urut 41 ini.

Dia menegaskan, keteladanan keluarga dan masyarakat itu menjadi yang nomer satu untuk keteladanan anak. Karena itu, dalam proses menuju yang lebih baik, butuh keteladanan dari keluarga dan tentunya dari lingkungan.

Nadjib Hamid bersama Humas SD Muda Ceria Sri Wahyuni (kiri), Kepala SD Muda Ceria Eddy Ryansyah (kedua dari kiri) dan wali siswa SD Muda Ceria (Ian Ianah/PWMU.CO)

Di hadapan para guru dan wali siswa yang antusias mengikuti acara itu, Nadjib berpesan, setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah beriman. “Orangtua dan lingkungannya yang bisa mengubah,” terangnya.

Pengaruh lingkungan, menurutnya, sangat kuat bagi pendidikan anak. Jika lingkungannya tidak kondisif maka akan mengubah kondisi fitrah itu menjadi terserah lingkungan.

“Adalah impian semua orangtua untuk menjadikan anaknya seperti dalam doa Nabi Zakaria: menjadi anak yang dirihai oleh Allah. Tapi proses menuju ke sana dinamikanya luar biasa,” tuturnya.

Nadjib menegaskan, anak- anak butuh keteladanan orangtua di rumah. “Tanpa itu kita pesimis bisa menghasilkan generasi muda yang punya integritas,” ujarnya.

Menurutnya, memberikan keteladanan kepada anak itu tidak mudah. “Kita semua bermimipi menjadi pemimpin yang hebat di masa depan, semua itu tak terjadi tanpa keteladan yang nyata dari kita; mulai dari aspek moral, integritas, dan spiritual. Dan semuanya tetap saja dikembalikan kepada Allah,” tutur Nadjib.

Dalam kesempatan itu dia memberikan apresiasi terhadap ikhtiar SD Muda Ceria karena masih memberi kesempatan kepada orangtua untuk bersilaturahmi dengan para guru.

“Perlu ada komunitas yang saling membantu untuk mendidik anak secara bersama agar ke depan masih ada generasi muda yang istiqamah dalam beragama dan akhlaknya terjaga,” pesannya. (Ian Ianah)