Sekolah Jadi Tempat Guru Mengajar, Bukan Wadah Murid Belajar

114
Hikmah Press

PWMU.CO – Kinerja belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh pengalaman sekolahnya. Seringkali, pengalaman di luar sekolah justru menentukan tingkat keterpelajaran seseorang.

Menempatkan sekolah sebagai lembaga yang paling membentuk keterpelajaran seseorang adalah mitos dan tahayul, kalau tidak bisa disebut hoax.

iklan

Ki Hadjar Dewantara mengatakan ada tiga pilar pendidikan: keluarga, masyarakat, dan perguruan. Ini berlaku terutama untuk pendidikan dasar.

Menyamakan pendidikan dengan persekolahan, lalu mengartikan wajib belajar sebagai wajib sekolah adalah keliru sekaligus menyesatkan.

Kelemahan sekolah adalah kenyamanannya, walaupun kekerasan pada anak sering dan bisa terjadi di sekolah. Sekolah sebagai built environment tidak mampu menyediakan tantangan dengan risiko nyata.

Kelemahan berikutnya adalah obsesinya yang berlebihan pada mutu (standard), terutama standard internasional, sehingga menelantarkan relevansi. Untuk pendidikan dasar, relevansi lebih penting dari pada mutu.

Kelemahan berikutnya adalah kecenderungan guru untuk mengharapkan hasil evaluasi yang benar, bukan hasil evaluasi yang jujur. Seringkali anak yang jujur malah ajur di sekolah.

Evaluasi seringkali juga berbasis pribadi, bukan tim. Obsesi pada daya saing menelantarkan daya sanding.

Pemujaan berlebihan pada mata pelajaran tertentu seperti matematika dan IPA, serta menelantarkan pendidikan seni dan jasmani adalah kecenderungan yang keliru.

Sekolah juga memiliki kecenderungan lebih sebagai tempat guru mengajar, bukan tempat murid belajar. Belajar yang sehat membutuhkan kesempatan yang cukup untuk mengalami, membaca, menulis, dan berbicara. Guru kemudian membantu murid untuk memaknai pengalaman murid melalui kesempatan membaca dan menulis serta berbicara.

Kinerja belajar anak tidak pernah terlalu ditentukan oleh kurikulum, sarana, dan guru. Yang paling menentukan adalah kesiapan anak sendiri. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang sehat akan bisa belajar dengan baik di sekolah yang buruk sekalipun.

Rumah menyediakan sarapan dan makan malam, sekolah hanya warung dekat rumah yang menyajikan makan siang.

Sekolah terbaik akan mengakui peran penting keluarga dan masyarakat serta melakukan semua yang diperlukan untuk melibatkan keluarga dan masyarakat dalam program sekolah. (*)

Gayungsari, 23/10/2018
Kolom oleh Daniel Mohammad Rosyid, Guru Besar ITS Surabaya.