Jika Bicara soal Memilih Pemimpin Tak Boleh di Masjid, Bagaimana ‘Nasib’ Ayat-Ayat Alquran tentang Kekuasaan?

263
Hikmah Press
Suasanan Pengajian Triwulan dengan penceramah Nadjib Hamid. (RW/PWMU.CO)

PWMU.CO – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur H Nadjib Hamid MSi tak bosan-bosannya menyampaikan pentingnya umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, agar menjaga perilaku Islami, termasuk dalam hal kebersihan.

“Yang membedakan warga Muhammadiyah dengan yang lainnya: bersih masjidnya, bersih sekolahnya, bersih toiletnya, bersih jiwanya. Orangnya juga bersih. Ini sebagai jawaban bahwa warga Muhammadiyah pantas menjadi pemimpin,” ujarnya.

iklan

Nadjib menyampaikan hal itu dalam Pengajian Triwulan yang diadakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ujungpangkah di Masjid At Taqwa Ngimboh, Ujungpangkah, Gresik, Kamis (1/11/18) malam.

Masjid At Taqwa yang secara fisik masih dalam proses pembangunan ini menjadi juga perhatian Nadjib. Dia mengingatkan agar masjid tersebut dikelola dengan baik termasuk dijaga kebersihannya.

Menyinggung soal politik, Calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Jatim nomor urut 41 itu mengatakan,
Muhammadiyah adalah anak sah bangsa ini. “Tapi kadang diperlakukan seperti anak tiri karena kita sering di anak tirikan oleh kebijakan,” ucapnya.

Dia juga menyinggung larangan memperbincangkan masalah politik di masjid. “Kalau soal memilih pemimpin itu tidak bisa dibicarakan di masjid, berarti banyak ayat Alquran tak boleh disampaikan di masjid karena di dalamnya banyak ayat tentang kekuasaan (politik),” ujarnya. “Jadi kita ini secara tidak langsung sudah diserang kebijakan politik.”

Menurut mantan Komisioner KPU Jatim itu, Islam itu tidak komplit jika hanya mengurusi ngaji dan ibadah tanpa mengurusi politik.

Nadjib Hamid (tengah) bersama tokoh Ujungpangkah. (RW/PWMU.CO)

Ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting PWM Jatim Nugroho Hadi Kusuma menjelaskan, pemimpin itu seharusnya dekat dengan kita. “Bahkan akan lebih baik jika pemimpin itu dari kader,” ucapnya saat membuka acara.

Pengajian ini dihadiri sekitar 200 peserta yang rata-rata berusia di atas 25 tahun. Dan terungkap, ternyata banyak warga yang tidak mengetahui perihal pemilu yang di laksanakan 17 April 2019.

“Ini menjadi hal yang perlu di perhatikan penyelenggara pemilu,” ucap Nugraha.

Jamaah pun merasa senang karena, seperti biasa, di akhir acara Nadjib memberi hadiah buku karyanya. Sudah dapat wawasan, dapat buku pula. (RW)