Nasib (Film) Pahlawan Kita: Menunggu Peran Pemerintah

47
Hikmah Press
Muhammad Izzul Muslimin. (Dok/PWMU.CO)

PWMU.CO – Memasuki bulan Nopember, kita akan memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 Nopember. Indonesia memiliki banyak tokoh pahlawan, baik yang sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional maupun yang belum ditetapkan tetapi diakui masyarakat peran kepahlawanannya.

Salah satu bentuk penghargaan terhadap jasa para pahlawan dan sekaligus untuk mengenang serta meneladani mereka adalah dengan cara membuat film peran para pahlawan baik yang bersifat dokumenter, semi dokumenter, maupun dalam bentuk fiksi sejarah.

iklan

Film yang bergenre fiksi sejarah atau lebih tepatnya disebut biography picture (biopic) cenderung lebih menghibur dan mudah dinikmati sebagai film tontonan. Film biopic juga bisa menumbuhkan dan membangkitkan heroisme dan jiwa patriotisme para penontonnya.

Meskipun masuk dalam kategori fiksi, film biopic tidak bisa dibuat sembarang atau asal asalan, tetapi tetap harus mengacu kepada fakta sejarah yang ada. Oleh karena itu film biopic membutuhkan riset dan kajian yang mendalam agar apa yang disajikan tetap bisa dipertanggung jawabkan.

Demikian juga dalam penyajiannya, film biopic juga harus sesuai dengan setting waktu, lokasi, dan situasi yang terjadi saat itu. Maka wajar jika film biopic tergolong film yang tidak murah biaya produksinya.

Beberapa film disebutkan berbiaya di atas Rp 10 miliar, bahkan ada yang menelan biaya di atas Rp 20 miliar. Sayangnya, setelah dilempar ke pasar lewat bioskop, televisi, dan media lainnya, tidak semua film dapat meraih jumlah penonton yang signifikan.

Banyak film biopic yang ditonton kurang dari 500 ribu penonton. Jika hanya mengandalkan pendapatan dari penonton, jelas dengan jumlah penonton di bawah 500 ribu belum bisa balik modal.

Untuk mengatasi agar film biopic tidak rugi, produser film biasanya menggandeng pihak-pihak donatur atau sponsor yang peduli, terutama yang punya hubungan secara emosional dengan tokoh yang akan di filmkan.

Di beberapa negara film tentang pahlawan diprakarsai dan dibiayai negara. Negara bertanggung jawab karena itu penting untuk menjaga semangat dan nilai serta membangun karakter bangsa. Jadi jika di Indonesia pembuatan film pahlawan justru atas inisiatif masyarakat, harusnya negara berterima kasih dan men-support.

Sayang, realitasnya support negara atau pemerintah sangat minim. Bahkan hanya sekedar membantu mempromosikan maupun mensosialisasikan agar film pahlawan bisa ditonton masyarakat luas pun sangat kurang. Tentu ini sangat memprihatinkan.

Film kepahlawanan tidak mungkin dibiarkan bersaing bebas dengan film komersial lainnya. Jangan heran jika film kepahlawanan akan kalah bersaing dengan film komedi, horor, atau percintaan.

Jika negara atau pemerintah tidak peduli maka jangan menyesal jika akhirnya hanya sedikit produser film yang mau membuat film kepahlawanan.

Untuk jangka panjang, bangsa Indonesia akan kehilangan film yang bisa membangun mental dan jiwa patriot, yang dampaknya juga akan mempengaruhi mental generasi mudanya. Semoga mimpi buruk itu tidak terjadi. (*)

Kolom oleh Muhammad Izzul Muslimin, Wakil Ketua Lembaga Seni, Budaya, dan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah.