Muhammadiyah Diharapkan Ikut Andil dalam Program ‘Gresik BISA’

72
Hikmah Press
Achmad Muzakki di ruang kerjanya. (Ria Eka Lestari/PWMU.CO)

PWMU.CO – Sebagai organisasi keagamaan yang besar di Kabupaten Gresik, Muhammadiyah diharapkan bisa turut andil dalam program peduli lingkungan di Kabupaten Gresik. Pesan ini disampaikan Kepala Bidang Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Gresik Achmad Muzakki, Selasa (6/11/18).

“Bisa dimulai dari kantor Muhammadiyah sendiri, juga perusahaan-perusahaan atau instansi yang ada di bawah naungan Muhammadiyah untuk melirik bagaimana kebersihan dan penghijauannya,” jelasnya.

iklan

Ditemui di ruang kerjanya, Zaki—pangilan akrabnya—menceritakan kegundahannya akan kesadaran peduli lingkungan yang masih kurang dalam diri warga Gresik.

“Coba keliling Gresik kota saja, di jam sesudah Subuh hingga jam enam pagi. Di bahu jalan itu masih kita jumpai sampah-sampah berserakan, sisa aktivitas warga semalam. Padahal sudah kita sediakan tempat sampah,” keluhnya.

Dia melanjutkan, stimulan menumbuhkan semangat warga untuk menjaga lingkungan telah dilakukan dengan mengadakan Gresik BISA

“BISA itu singkatan dari Bersih, Indah, Sejuk, dan Asri. Ini kompetisi yang berkelanjutan karena lingkungan itu tak cukup satu kali dijaga, tapi setiap hari. Karena itu ada grade pemula, berkembang, dan mandiri” ungkap Zaki.

Menurutnya, Dinas LH selama ini masih dipandang sebagai tempat mengurusi polusi saja, sehingga masyarakat belum banyak yang mengenal program-program lingkungan hidupnya.

“Kami punya pemberdayaan masyarakat, seperti pengelolaan sampah, perbanyak tanaman, ruang terbuka hijau, dan lain-lain. Sehingga saat kami keliling penjurian Gresik BISA, kami tidak hanya menilai, tapi juga mensosialisasikan program kami,” tegasnya.

Pria asal Kecamatan Duduk Sampeyan, Gresik ini mengungkapkan masyarakat masih mengira limbah hanya berasal dari industri.

“Padahal yang paling besar itu ya limbah domestik lho. Limbah yang mereka hasilkan sehari-hari sendiri. Karena itu ayo Muhammadiyah melalui warganya diajak menjadi penggerak peduli lingkungan di Gresik ini,” harap Zaki.

Dia menyebutkan Dinas LH sudah berhasil membina beberapa kampung yang menjuarai Gresik BISA untuk dikirim ke Jatim Berseri, sebuah kompetisi lingkungan hidup yang diselenggarakan Provinsi.

“Alhamdulillah, kita selalu bisa bersuara di grade Pratama, Madya, dan Mandiri. Saat ini bahkan, kami sedang menunggu pengumuman dari Pusat untuk kompetisi lingkungan hidup tingkat Nasional yang bernama Proklim atau Kampung Pro Iklim,” tuturnya bersemangat.

Ayah dari tiga putra yang kesehariannya tinggal di Desa Banyuwangi, Manyar, Gresik itu menuturkan Desa Doudo, Panceng, Gresik ditunjuk mewakili Kabupaten Gresik mengikuti Proklim Grade Pratama.

“Di sana itu masyarakatnya mampu mengelola sumber air, mengelola Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)-nya sehingga bisa dimanfaatkan untuk keperluan tanaman. Mereka sudah membuat produk khusus dari alam tanpa merusak alam. Pengelolaan air bersihnya juga bagus,” ujarnya.

Dia berpendapat, IPAL-nya dikelola secara komunal dan untuk ternak lele serta menyiram tanaman. “Setiap kampung punya ciri khas. Ada kampung Aloevera, yang berarti warganya mengembangbiakkan lidah buaya sekaligus diolah hasil panennya,” imbuhnya.

Zaki bersyukur bisa berpartisipasi dalam Proklim karena even ini tergolong sulit kriteria penjuriannya.

“Dalam Proklim, warga diharuskan tidak hanya sadar tentang bagaimana pengelolaan sampah biopori, tapi bagaimana dia menghadapi perubahan iklim, bagaimana swadaya masyarakat, sehingga pengelolaan sumber daya alamnya juga dinilai secara masif,” ujarnya.

Berbicara tentang keunikan lingkungan hidup di Gresik, dia menegaskan Gresik yang terkenal dengan Kota Industri tentu memiliki banyak potensi.

“Kita punya Pulau Bawean yang masih asri, Kita punya mangrove di Kecamatan Ujungpangkah yang bisa dikembangkan. Yang terpenting adalah kesadaran dan kemauan kita mengubah pola pikir berwawasan lingkungan,” pesan Zaki.

Dia mengingatkan Dinas LH yang dulunya bernama Badan Lingkungan Hidup telah berganti menjadi Dinas Lingkungan Hidup sejak 2017.

“Kalau Badan itu sifatnya koordinatif, jadi langkah kami itu terbatasi. Tapi kalau Dinas, sifatnya teknis. Jadi kami bebas bergerak melaksanakan program,” ucapnya. (Ria Eka Lestari)