Di Bangladesh, Din Syamsuddin Ajak Tokoh Agama Lakukan Dialog yang Dialogis

55
Hikmah Press
Din Syamsuddin saat menjadi pembicara di Dhaka. (Din for PWMU.CO)

PWMU.CO – President of Asian Conference on Religions for Peace (ACRP) Prof Din Syamsuddin menyatakan dialog antar dan intraagama sekarang ini telah menjadi kebutuhan mendasar manusia (basic human need).

Din menyampaikan itu ketika tampil sebagai pembicara utama pada seminar World Peace, Interfaith, and Intrafaith Dialogue, di Dhaka, Bangladesh, Selasa (27/11/18). Menurut Din, kehidupan umat manusia dewasa ini menampilkan primordialisme dan egosentrisme yang berlebihan sehingga sering mengganggu hubungan antarkelompok. Baik agama, etnik, maupun perbedaan kepentingan politik. Baik pada skala lokal dan nasional maupun global.

iklan

Fenomena itu, menurut Din, juga ditambah dengan persebaran kebencian, praduga, dan pandangan yang bersifat streotipikal di masyarakat, khususnya melalui media sosial. “Jika tidak segera diatasi, kecenderungan ini akan membawa kepada ketegangan dan pertentangan antarkelompok. Maka, dialog merupakan solusi. Dan kita harus meyakini kekuatan dialog,” tegas Presiden World Conference on Religions for Peace (WCRP/RfP International).

Melalui keterangan tertulis yang dikirim kepada PWMU.CO, Rabu (28/11/18) pagi, Din menyampaikan seminar yang diadakan di Westin Hotel Dhaka oleh Religions for Peace (RfP) Bangladesh diikuti sekitar 200 peserta dari kalangan agamawan, cendekiawan, politisi, diplomat, dan sebagainya. Selain peserta domestik hadir juga peserta luar negeri, antara lain dari Jepang, Australia, India, Filipina, dan Myanmar.

Dalam pidato kuncinya, Ketua Umum Pimpinan Muhammadiyah periode 20015-2010 dan 2010-2015 itu mengatakan, walau sudah cukup banyak dialog antaragama dan peradaban, namun dialog tetap diperlukan. “Sudah banyak dialog tapi masih terjadi konflik, apalagi kalau tidak ada dialog,” tandasnya.

Namun, menurut Din yang juga menjabat Ketua Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), perlu ada paradigama dan pendekatan baru dari dialog. Dia mengusulkan dialog yang perlu dikembangkan adalah dialog dialogis (dialogical dialogue), yakni dialog yang bertumpu pada ketulusan, keterbukaan, dan keterusterangan untuk menyelesaikan masalah.

Hal ini, kata Din, dapat dilakukan kalau pemeluk berbagai agama menjalankan ajaran agamanya secara benar dan meletakkan keberagamaan pada wawasan kemanusiaan.

Menurut Guru Besar Politik Islam Global UIN Syarih Hidayatullah Jakarta ini, sejatinya agama-agama memiliki dimensi kemanusiaan dan bertujuan untuk kemaslahatan manusia (rahmatan lil ‘alamin). “Maka keberagamaan otentik adalah beragama yang menyelamatkan sesama manusia,” tuturnya.

Seminar dua hari itu juga menampilkan pembicara antara lain President RfP Bangladesh Principal Sukomal Burua, Deputi Moderator ACRP Prof Desmon Cahil dari Australia, Co-President ACRP Dr Vasudevan dari India, dan Sekjen ACRP Rwv Nobuhiro Nemoto dari Jepang.

Menurut Din, seminar tentang dialog dan perdamaian itu menjadi signifikan karena berlangsung di tengah hiruk pikuk pemilu di Bangladesh yang akan berlangsung 30 Desember ini. (MN)

Din Syamsuddin berfoto bersama pembicara dan peserta. (Din for PWMU.CO)