Cegah Korupsi, BI Dorong Transaksi Non Tunai, Pertamina Terapkan Whistle Blowing

89
Hikmah Press
Wahyu/pwmu.co
Seminar pencegahan korupsi di FEB Umsida. Hakim Tipikor Lufsiana Abdullah di podium lalu moderator Dr Sriyono, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jatim Difi Ahmad Johansyah, Manajer Komunikasi Pertamina Rustam Aji.

PWMU.CO-Bank Indonesia mendorong masyarakat melakukan transaski non tunai. Manfaatnya mencegah korupsi dan memudahkan identifikasi kejahatan keuangan.

Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Difi Ahmad Johansyah dalam seminar pencegahan korupsi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Selasa (4/12/2018).

iklan

Difi mengatakan, transaksi non tunai memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi negara.”Transaksi non tunai bisa mencegah korupsi, membantu usaha pencegahan dan identifikasi kejahatan kriminal karena semua transaksi akan terekam oleh sistem,” kata Difi.

Bank Indonesia, sambung dia, terus kerja sama dengan pemerintah di kementerian, pemerintah daerah dan pelaku industri dalam mengimplementasikan pembiayaan non tunai untuk mencegah terjadinya korupsi.

Seminar kali ini juga mendatangkan Manajer Komunikasi dan CSR Pertamina Wilayah Jawa Timur Rustam Aji dan hakim Tindak Pidana Korupsi Wilayah Jatim Dr Lufsiana Abdullah SH MH.

Dalam paparannya Rustam Aji mengungkapkan, untuk mencegah korupsi Pertamina menggunakan Whistle Blowing System atau WBS.

”Whistle Blowing System adalah  sistem yang memberikan sarana kepada para pemangku kepentingan, khususnya insan Pertamina untuk membuat pengaduan mengenai perilaku tidak etis seperti suap, korupsi, pemyimpangan atas laporan keuangan,” ujarnya.

”Pekerja Pertamina apabila menerima gratifikasi bisa melaporkan melalui WBS sehingga tindak pidana korupsi bisa dicegah,” paparnya

Sedangkan hakim Tipikor Dr Lufsiana Abdullah SH MH  menegaskan, agar masyarakat menghindari korupsi. Bila masuk penjara sudah pasti hidup akan sengsara. Tidak akan bisa menikmati angin bebas di luar. ”Tinggal di penjara yang sempit sehari itu lamanya seperti setahun. Tidak enak sama sekali,” katanya.

Hakim yang sudah banyak mengadili pelaku korupsi ini berbagi cerita kepada ratusan peserta seminar, bagaimana  saat dia menghakimi para terdakwa tindak pidana korupsi.

”Saya sering melihat para terdakwa yang menangis saat menerima dakwaan. Hingga keluarga ikut menangis melihat saudaranya menjadi terdakwa,” tandasnya.

Seminar pencegahan korupsi ini dihadiri lebih dari 500 peserta yang terdiri dari dosen FEB Umsida, mahasiswa dan undangan umum. Termasuk juga dihadiri oleh lima guru dari SMA Muhammadiyah 1 Taman Sidoarjo. (Wahyu Murti)