Ada Enam Belief System, Sudah Berapa yang Diterapkan di Sekolah Muhammadiyah?

66
Hikmah Press
Sonya/pwmu.co
Peserta Training of Trainer (ToT) Education Leader Modul 4 sekolah Muhammadiyah mempraktikkan materi pelatihan.

PWMU.CO-Setidaknya ada enam Belief System yang dilekatkan pada sekolah sebagai brand dan sistem keunggulan yang ditawarkan kepada masyarakat. Keunggulan sekolah untuk memberi warna pada lulusannya.

Hal tersebut diungkapkan trainer Irsyad Trust Singapore Muhammad Tarmizi bin Abdul Wahid dalam Training of Trainer (ToT) Education Leader Modul 4, Senin (3/12/18).

iklan

Kegiatan ini diadakan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur berlangsung selama tiga hari, Senin-Rabu (3-5/12/18) di Grand Whiz Hotel Trawas, Mojokerto. Acara ini diikuti 30 peserta terdiri kepala dan wakil kepala sekolah Muhamamdiyah.

Tarmizi menjelaskan, dengan enam Belief System (BS) ini masing-masing sekolah bisa mengenali brand dan sistem yang diyakini oleh sekolah agar bisa berkembang baik dan dipercaya masyarakat.

Enam Belief System itu adalah pertama, religion orthodox. ”Memosisikan sekolah dengan  menajamkan pendidikan agama yang diyakini sebagai sistem dan program yang penting,” ujarnya.

Kedua, cognitive process. ”Artinya keseluruhan proses sekolah mengajak siswa untuk berpikir. Problem solving  dan menyampaikan alasan terhadap masalah-masalah yang bisa diangkat sebagai topik pembahasan. Mengolaborasikan, berdebat, dan mengomunikasikan ide-ide dijadikan sebagai goal dari pendidikan,” tuturnya.

Ketiga, academic rasionalism. Ini, kata dia, meletakkan dasar pengambilan langkah yang tepat untuk tahu apa yang terbaik yang harus diberikan kepada siswa. Di dalamnya menjadikan siswa sebagai pusat kegiatan. Di samping itu siswa diberikan instruksi strategis seperti mengingat, mendemonstrasikan, drilling serta mengajak anak-anak untuk banyak membaca.

Keempat, self actualization. ”Sekolah yang menjadikan goals penting dengan melejitkan potensi, kreativitas dan keunikan dari masing-masing siswa,” tandasnya.

Kelima, social reconstructionism. Sekolah membangun jiwa siswa sebagai warga negara yang baik dan bermanfaat. ”Mengupdate masalah-masalah yang sedang in dan hits serta mencari solusi dari permasalahan dengan cara yang damai,” papar dia.

Keenam, technologist. Sekolah dengan penekanan kuat pada nilai tes, akuntabilitas, pembelajaran terukur, dan sub skill belajar. Penguasaan data yang lengkap serta diagnosa.

Setelah diterangkan tentang enam BS, Tarmizi meminta masing-masing peserta diminta menyebutkan tiga dari enam  tingkatan itu yang dipakai di sekolahnya.

Hari Widianto MPd,  kepala SMP Muhammadiyah 12 GKB, menyebutkan hampir seluruh sekolah Muhammadiyah meletakkan religion ortodox sebagai Belief System yang pertama.

”Dengan kegiatan religi melalui pembiasaan yang dimulai dari awal kedatangan siswa sampai kepulangan. Seperti penyebutan password, shalat Duha, murajaah, tahfidh, shalat berjamaah sampai dengan kegiatan filantropi,” katanya.

Dua lainnya, Hari Widianto menerapkan, self actualization dan cognitive process. Yang pertama, minat dan bakat siswa dikembangkan dalam pembinaan kegiatan ekstra kurikuler dan diuji dengan mengikuti lomba.

Yang kedua, siswa juga diajari berpikir untuk memecahkan masalah dalam berorganisasi. Pembelajaran based on 4C. Comunication, colaborating, critical thingking and creativity.

Metode pelatihan ini menyenangkan bagi peserta. Para leaders dapat diskusi terbuka menyampaikan belief system sekolahnya perspektifnya. Bisa bertukar informasi terkait program dan kegiatan dengan sekolah yang lain.

Tarmizi menyampaikan, terkesan dengan peserta.  Dia bisa mendapat banyak ilmu baru dari para leaders sekolah  Muhammadiyah ini.

”Spirit leaders membuat saya yakin bahwa sekolah di Indonesia akan maju pesat karena punya leaders dari sekolah Muhammadiyah yang visioner dan punya semangat berubah di era 4.0 ini. Ini Amazing Team Leaders,” serunya. (Sonya)