Kolom Haedar Nashir: Pak Yatno Figur Pekerja Keras

1191
Pasang Iklan Murah

PWMU.CO – Kami mengenal Prof Dr H Suyatno MPd dengan sangat baik. Panggilan akrabnya Pak Suyatno atau Pak Yatno. Figur yang ramah, bersahabat, visioner, pergaulannya luas, dan yang lebih kuat karakternya ialah pekerja keras.

Apapun dilakukan oleh Pak Yatno dengan gigih dan penuh kesungguhan, sehingga akhirnya berhasil. Prof Suyatno adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (Uhamka) 13 tahun satu bulan. Amanah yang cukup lama, bukan atas kehendaknya, tetapi atas penugasan dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Pada umumnya rektor-rektor perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) yang memegang jabatan lama sepenuhnya atas
pertimbangan dan keputusan PP Muhammadiyah untuk kemajuan dan
kesinambungan PTM tersebut.

Swasta berbeda dengan negeri yang segala sesuatunya ditanggung negara, tentu mesti memiliki kekuatan sendiri untuk mandiri dan memiliki otonomi.

Pak Yatno selama sekitar dua tahun terakhir ini memiliki amanat lain sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB) yang baru berdiri. UMB memang dalam bimbingan manajemen Uhamka, sehingga rektornya pada tahap awal dirangkap, terutama untuk kemudahan, efisiensi, dan meletakkan fondasi.

Kini setelah Pak Yatno tidak menjadi
Rektor di Uhamka, tentu lebih longgar untuk megembangkan PTM baru di Kota Kembang tersebut sebagai prioritas program pengembangan PTM unggulan ke depan.

Prof Suyatno sejak menjadi dosen biasa di Uhamka sampai menjadi rektor dikenal sebagai sosok pekerja keras. Apa saja dilakukan dengan gigih, sungguh-sungguh, dan sepenuh hati. Pengkhidmatannya atas tugas sungguh luar biasa. Tidak ada kata menolak ketika Persyarikatan Muhammadiyah menugaskannya.

Semua dilakukan dengan sepenuh pengorbanan. Uhamka menjadi berkembang salah satu di antaranya, selain dilakukan para rektor sebelumnya, tentu karena sentuhan kerja keras yang juga visioner dari Pak Yatno.

Pada umumnya rektor atau pimpinan PTM memiliki etos kerja yang luar biasa dalam merintis, membesarkan, dan memajukan amal usaha pendidikan tinggi tersebut. Mereka sering tidak mengenal waktu, siang sampai malam. Sehari-hari pengkhidmatannya dioptimalkan untuk menjadikan PTM sebagai lembaga pendidikan tinggi yang unggul. Jangan dilihat PTM setelah besar, cermati ketika kecil dan bertumbuh, sungguh dikelola oleh sosok-sosok pekerja keras seperti Pak Yatno.

Dalam keseharian orang mengenal Pak Yatno sebagai pribadi yang ringan hati. Tugas-tugas PP di mana beliau sebagai Bendahara Umum ditunaikan dengan senang dan kegembiraan. Sosoknya memang gembira, ramah, dan santun. Pembawaannya hangat kepada siapa pun. Hal tersebut memudahkannya dalam berinteraksi lebih khusus dalam  menjalankan tugas, sehingga sukses.

Pak Yatno juga dikenal memiliki radius pergaulan yang luas. Beberapa jabatan publik di luar pernah diembannya, termasuk Ketua Forum Rektor. Pernah juga menjadi Anggota DPRD DKI Jakarta. Mengurus penanggulangan narkoba, serta tugas publik lainnya. Bahkan pernah terpilih dengan suara besar dan lolos ke Senayan untuk Anggota DPR-RI. Sayang partainya tidak lolos electoral-trheshold, sehingga tidak berlanjut.

iklan

Demikian banyak tugasnya, bagi Pak Yatno seperti ringan. Dengan kekuatan kerja keras dan pergaulan yang luas, Pak Yatno dapat lebih mudah menjalankan tugas dan amanah Persyarikatan. Karena banyak tugas di tempat lain, sampai berlebih.

Kadang demikian sibuk, beberapa momen tampak kelelahan, sehingga penulis sering bilang, “Pak Yatno, istirahatlah!” Tapi tugas dan kerja rupanya sudah melekat dengan ritme hidup sosok yang ramah ini.

Pascapurna dari Rektor Uhamka, tentu Prof Suyatno masih dapat membantu dalam wujud lain mendukung dan mem-back-up Prof Dr Gunawan Suryoputro yang kini menjadi Rektor Uhamka yang meneruskannya.

Uhamka harus tetap berkembang ke tingkat kualitas yang lebih tinggi, sehingga menjadi Universitas Muhammadiyah yang berkemajuan di kancah nasional maupun internasional.

Tugas khusus memimpin Universitas Muhammadiyah Bandung tentu akan lebih tertangani optimal pascapurna dari Uhamka. UMB niscaya menjadi PTM yang maju dan unggul sebagai ikon penting Muhammadiyah Jawa Barat.

Bersama UM Cirebon, UM Sukabumi, dan UM Tasikmalaya—tentu UMB karena berada di jantung kota Jawa Barat dan dikenal sebagai kota pendidikan tenama—mesti melesat menjadi PTM yang membanggakan. Dengan kampus yang futuristik, kata Menristekdikti ketika peletakkan batu pertama kampus, UMB di tangan Pak Yatno dan kawan-kawan memiliki peluang menjadi kampus unggulan dengan kekhasannya untuk mengembangkan diri sebagai universitas  “technopreneur” sebagaimana menjadi visi dari PTM di kota Parijs van Java ini.

Pak Yatno tentu masih mengemban tugas utama sebagai Bendahara Umum PP Muhammadiyah, yang bersama Pak Marpuji Ali memiliki amanat untuk menggali dan mendayagunakan keuangan Persyarikatan secara optimal. Setelah purna dari Rektor Uhamka, tentunya sosok pekerja keras ini akan semakin memiliki waktu untuk mengemban amanat yang penting dan strategis ini. Muhammadiyah harus semakin mantap dan kuat dalam keuangan dan pengembangan ekonomi, selain kekuatan ruhani dan prinsip gerakannya.

Banyak sisi kehidupan Prof Suyatno yang tentu saja dapat diungkap oleh para handai taulan yang pernah bergaul dan mengikuti perjalanan hidup ahli pendidikan ini.

Melalui buku biografi Mengabdi, Memimpin Perubahan yang diterbitkan ini tentu sisi-sisi kehidupan Pak Yatno dapat diketahui lebih dalam dan lebih detail. Sejauh yang diketahui, perjalanan hidup Prof Yatno sejak di desanya di daerah Banyumas sampai ke Jakarta penuh liku dan perjuangan yang luar biasa.

Pak Yatno yang sekarang tidak hadir instan dan tiba-tiba, tetapi melalui jalan panjang yang sarat dinamika. Semoga Prof Suyano dan keluarga tercinta diberi kesehatan serta kemudahan dalam berkhidmat untuk persyarikatan, umat, dan bangsa.

Kekuatan kerja keras dengan ketulusan dan keluasan pergaulan dapat memudahkan Pak Yatno dan siapapun yang berkhidmat untuk kepentingan masyarakat luas. Tentu menjaga ritme dan waktu istirahat tetap diperlukan, sehingga ada keseimbangan.

Selamat atas pengkhidmatannya yang tak kenal lelah, Prof Yatno. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi! (*)

Kolom oleh Dr Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah.