Beginilah Suka Duka Menjadi Penjamin Penghuni Lapas Wanita

567
Pasang Iklan Murah
Hj Laila Arcono (kanan). (Uzlifah/PWMU.CO)

PWMU.CO – Suka duka menjadi penjamin penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dibeberkan Anggota Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Klojen Laila Arcono pada PWMU.CO usai rapat pimpinan dan majelis di kediaman Usawatul Hamidah Jalan Bareng Kartini Kota Malang, Ahad (7/1/19).

Dia mengatakan, mantan Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari adalah salah satu dari ratusan penghuni Lapas Wanita Sukun Malang yang pernah mendapatkan jaminan dari Aisyiyah.

iklan

Menurutnya, menjadi penjamin para penghuni Lapas merupakan tugas yang sangat mulia. “Dan itu butuh banyak pengorbanan,” ujar Bu Arcono, begitu dia dia dipanggil. Dia sendiri telah mengemban amanat tersebut sejak tahun 2000.

Dia menjelaskan, menjadi penjamin itu tidak serta merta ditunjuk begitu saja. “Prosesnya sangat panjang dan lama, di mulai sejak tahun 1950,” ucapnya.

Dia mengisahkan pada saat itu Ketua Majelsi Tabligh PCA Klojen Badriyah Shaheh mengajaknya untuk memberikan pembinaan pada seluruh penghuni Lapas Wanita Sukun yang masih berjumlah sekitar 150 orang. Dia melakukan pembinaan itu bersama Siti Halimah (alm), Mahfiyah Sunaryo, dan Fatma Abdus Syukur. Ketiganya ngintil Badriyah Shaheh sampai akhirnya mereka berempat benar-benar menjadi pengajar pada 1978.

“Saat Kepala Lapasnya-nya Ibu ARC Salim, (keluarga dari KH Agus Salim), kami diminta untuk jadi pengajar agama di Lapas,” ungkapnya. Dan sampai saat ini Mahfiyah Sunaryo dan Fatma Abdus Syukur masih istiqamah sebagai pengajar di Lapas bersama dia.

Suasana pertemuan. (Uzlifah/PWMU.CO)

Perempuan asal Bangil itu menjelaskan kalau dirinya diangkat menjadi penjamin pada tahun 2000, ketika Kalapasnya Lilik Setyowati. “Beliau secara khusus meminta Aisyiyah untuk menjadi penjamin, karena penjaminnya sebelumnya itu Nasrani,” ungkapnya. “Sehingga anak-anak yang beragama Islam tidak boleh shalat, tidak boleh ngaji.

Selama 18 tahun menjadi penjamin, bersama Badan Pengawas (Bapas) dan LApas agar anak didik mendapat remisi untuk bebas bersyarat, dia memiliki cerita yang menarik.

“Tiga kali saya menampung anak yang sudah bebas. Pertama saya tampung anak dengan kejahatan membunuh,” tuturnya. Saya tampung, sambungnya, karena tidak punya keluarga dan rumahnya terbakar. “Saya kontrakan, saya beri modal untuk kerja, dia jual sabit,” kisahnya.

Bu Arcono mengatakan kalau saat itu sudah senang, meskipun anak tersebut pernah masuk sel untuk yang kedua kalinya karena kasus narkoba.

“Termasuk Bu Ratna, mantan Bupati Banyuwangi yang dijamin Aisyiyah. Pembinaannya saya titipkan di Panti Putri Aisyah Lowokwaru selama tiga bulan. Kemudian ada seorang notaris, saya titipkan di Panti Asuhan Lawang,” ungkapnya.

“Tanda Tangan saya sampai sangat dihafal sama Yusril Ihza Mahendra, Kemenkum HAM saat itu,” tandasnya.

Perempuan berusia 70 tahun itu menuturkan, untuk menjadi penjamin seleksinya sangat sulit. Selain harus sebagai ketua yayasan kondisi keluarga juga ditinjau berulang kali.

Untuk pembiayaan, semua dilakukan secara mandiri dan donatur dari Aisyiyah. “Awal saya menjadi penjamin anak didik penghuni Lapas hanya sekitar 200 orang. Kini jumlahnya mencapai 650 orang,” terang dia.

Dia menjelaskan, karena usia dan kesehatan dia sudah menyampaikan pengunduran diri dan minta salah seorang anggota Pimpinan Daerah Aisyihah Kota Malang menggantikannya. (Uzlifah)