Jawa Pos, Persebaya, dan Mafia Bola

1777
Hikmah Press
Dhimam Abror Djuraid. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.COJawa Pos (JP) digugat ke pengadilan oleh Persebaya gara-gara laporan investigatif soal mafia bola “Persebaya pun Terseret” yang dimuat edisi 6 Januari 2019. JP dianggap melakukan pencemaran nama baik. Saatnya Tim Satgas Anti-Mafia menyelidiki dugaan atur skor di Persebaya dan tim Liga 1 lainnya.

iklan

Ini bisa jadi seru. Masyarakat bola Jawa Timur tahu bahwa Persebaya ibarat anak angkat Jawa Pos, atau paling tidak, anak adopsi. Mengapa sekarang pada ribut?

Nah, yang kebakaran jenggot sebenarnya bukan Persebaya. Bukan Azrul Ananda sebagai Presiden Persebaya. Tapi, dua orang pengurus Persebaya, Chairul “Abud” Basalamah dan Cholid Goromah.

Si Abud tidak pernah punya sejarah apapun di Persebaya. Ia hanya dicomot oleh Azrul untuk menjadi manajer pada kompetisi Liga 2 musim 2016-2017.

Cholid Goromah punya sejarah yang lumayan panjang. Panjang, berkelak-kelok, dan licin, selicin manuver Cholid yang sekarang menjadi de facto penguasa Persebaya.

Azrul Ananda boleh punya jabatan mentereng sebagai presiden. Tapi, dalam hal mengelola benang kusut nan ruwet di manajemen Persebaya Cholid-lah orangnya.

Kelicinan Cholid sudah terbukti. Ibarat belut, dia belut yang nyemplung di oli, superlicin. Pada 2012 ia menjadi duet pasangan ganda Saleh Ismail Mukadar mengelola “Persebaya Perjuangan” 1927, melawan Persebaya Divisi Utama yang dikuasai La Nyalla Mattalitti.

Dua kubu ini bertarung begitu keras. Saking kerasnya impaknya menjalar ke sepakbola nasional dan membuat PSSI pecah menjadi dua IPL dan ISL. Kubu Cholid-Saleh Mukadar ada di pihak IPL yang dikomandani Arifin Panigoro, sedangkan La Nyalla ada di seberang di kubu ISL. Persaingan ini melibatkan perang dingin dua bos besar Arifin Panigoro vs Nirwan Bakrie.

La Nyala, yang tidak punya latar belakang bola, kemudian menjadi Ketua Umum PSSI pada 2015 dan tidak direstui Menpora Imam Nahrawi sebagai wakil pemerintah. Akhirnya PSSI dibekukan oleh FIFA, sepakbola Indonesia pun mati suri.

Saleh Mukadar juga tidak punya pengalaman bola. Sebagai politisi PDIP ia lebih banyak memakai Persebaya sebagai kendaraan politik. Semula Saleh bersahabat dengan La Nyalla, tapi kemudian mereka berseberangan, pecah kongsi, dan bermusuhan. Sekarang petualangan Saleh dan La Nyalla di sepakbola sama-sama tamat.

Cholid tidak ada matinya. Cholid pernah dimusuhi oleh La Nyalla karena gandeng sama Saleh Mukadar. Tapi, Cholid pintar baca cuaca. Begitu angin berembus ke La Nyalla, Cholid cepat merapat ke La Nyalla dan Saleh pun ditinggalkan. Saleh merana. Karir bola habis, karir politik kembang kempis.

Karir bola La Nyalla tak bertahan lama. Eddy Rahmayadi muncul menjadi ketua PSSI, 2016, karir bola La Nyalla pun tamat. Cholid cepat-cepat loncat ke gerbong Eddy Rahmayadi, yang menjanjikan perlakuan spesial bagi Persebaya.

Begitu Eddy naik takhta, Cholid cepat-cepat cari juragan baru untuk jadi bohir Persebaya. Ketemulah Azrul Ananda, yang dengan enteng melunasi semua tanggungan Persebaya untuk mendapatkan kompensasi saham mayoritas. Sebagian uang kompensasi itu mengalir ke kantong Cholid.

JP mengeluarkan dana besar untuk pengelolaan Persebaya. Tapi, tanpa hitungan yang jelas kapan bisa menghasilkan untung akhirnya manajemen JP capek juga. Maka Azrul pun harus out dan dana yang dikeluarkan JP untuk Persebaya harus dibayar dan Persebaya menjadi milik Azrul pribadi.

Jawa Pos seperti ular kobra yang menari sesuai irama seruling. Waktu Azrul masih di JP berita-berita selalu indah tanpa cacat. Setiap minggu sedikitnya ada dua kali laporan khusus mengenai Persebaya empat sampai 8 halaman full color.

Tapi, setelah Azrul out di akhir 2017 mendadak suara seruling berubah, dan si kobra balik mematuk sang mantan majikan. Nyaris tak ada berita positif lagi yang ditayangkan JP. Ketika pada pertengahan musim 2018 Persebaya ngos-ngosan dan berada di zona merah degradasi, JP seperti mencium bau darah dan main hajar tiap hari. Kalau hari ini Azrul masih di JP belum tentu laporan investigasi mafia bola ini muncul.

Azrul pun pindah ke lain hati. Dia merangkul harian Surya untuk menjadi media partner Persebaya. Tapi, dukungan ke Azrul dari internal harian Surya hanya seperempat hati. Berita-berita Persebaya di Surya hambar tanpa rasa karena Azrul mau mengontrol semua berita itu. Surya juga tidak berminat mengeluarkan uang untuk Persebaya karena tidak punya uang untuk itu. Sementara, sejarah hubungan Surya yang tidak harmonis dengan suporter bonek menimbulkan resistensi di ruang redaksi terhadap Azrul dan Persebaya.

Dari Saleh Mukadar lari ke La Nyalla, dan meloncat ke Azrul, Cholid Goromah sudah tahu tak lama lagi Azrul bakal habis. Di internal Persebaya Azrul tidak mendapatkan dukungan maksimal. Dari bonek pun dukungan ogah-ogahan, apalagi prestasi Persebaya sekarang medioker.

Cholid, mungkin, sedang ambil ancang-ancang untuk loncat ke kapal lain. Sudah muncul gerakan diam-diam untuk mendongkel Azrul dan tak bakal lama kemelut ini akan meledak.

Muncullah kasus dugaan mafia atur skor yang diduga melibatkan Cholid dan Abud. Satgas anti-mafia jangan buang waktu, segera periksa Cholid dan Abud, sekalian Vigit Waluyo. Kalau indikasi sudah jelas, tidak usah ragu-ragu untuk menangkap tiga orang itu.

Vigit, yang selalu disebut-sebut sebagai salah satu bagian penting dalam jaringan mafia bola Indonesia, sekarang tengah meringkuk di tahanan akibat kasus korupsi APBD Sidoarjo yang dipakai untuk membiaya klub Deltras Sidoarjo yang dikelola Vigit.

Pengaturan skor Persebaya vs Kalteng Putra hanya kasus kecil. Masih banyak kasus match fixing (atur skor) dan match setting (atur pertandingan) yang diduga melibatkan Persebaya di Liga 1 musim 2018 ini.

Dari Abud, Cholid, dan Vigit akan terungkap betapa masifnya gurita mafia sepakbola di Indonesia, yang melibatkan banyak elite sepakbola nasional. (*)

Kolom oleh Dhimam Abror Djuraid, wartawan senior, pendiri Askring FC dan Subuh FC.