Pelajari Warisan Budaya Batik di Desa Sendang Agung

98
Pasang Iklan Murah
Ulin Nuha/pwmu.co
Siswa kelas 5 MI Muhammadiyah 2 Campurejo Panceng Gresik mengunjungi Wisata Edukasi Batik di Desa Sendang Agung Paciran Lamongan.

PWMU.CO-Siswa kelas 5 MI Muhammadiyah 2 Campurejo Panceng Gresik  mengunjungi  Wisata Edukasi Batik di Desa Sendang Agung Paciran Lamongan, Kamis (10/1/2019).

Pukul 09.00 rombongan tiba di lokasi disambut  perangkat desa dan pengurus Bumdes di balai desa. Wisata batik ini dikelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

iklan

Anak-anak didampingi wali kelasnya, Nurkhan, mengikuti acara seremonial perkenalan dan  penjelasan dari pengurus Bumdes tentang perkembangan usaha batik di desa ini.

Ketua Bumdes Luthfi Yuhandi SPd MM menjelaskan, batik adalah kain yang dilukis menggunakan canting dan cairan malam sehingga membentuk lulusan-lukisan bernilai seni tinggi dalam kain mori.

“Batik berasal dari kata amba dan tik yang merupakan bahasa Jawa artinya adalah menulis titik. Kalau zaman dulu disebutnya ambatik,” jelasnya.

Sebelum membatik perlu menyiapkan bahan yang akan digunakan, kata Lutfi. Di antaranya kain mori, malam, atau napthol.

Luthfi menjelaskan satu persatu bahan-bahan tersebut. Kain mori adalah kain tenun berwarna putih yang akan dilukis. Bahan baku kain mori terbuat dari katun, polyester, rayon, dan sutra. Ada dua jenis kain mori yaitu kain mori yang telah mengalami proses pemutihan atau bleaching dan kain mori yang belum diputihkan.

Sedangkan malam, Luthfi melanjutkan,  yaitu zat padat yang diproduksi secara alami. Dalam istilah sehari-hari orang menyamakannya lilin. Lilin (kandil) memang dapat menggunakan malam sebagai bahan bakarnya. Akan tetapi malam berperan sebagai penutup bagian kain agar tidak terwarnai dalam pencelupan.

Napthol adalah bahan kimia jenis fenolik yang digunakan untuk mencelup pewarnaan. Pada umumnya fungsi dari 1 Napthol digunakan dalam satu warna.

Menurut Luthfi, alat-alat untuk membatik antara lain gawangan.  Yaitu bentangan kayu tempat meletakkan kain mori untuk dibatik. Tinggi gawangan 0,5 meter, sedangkan panjangnya 1 meter.

Kemudian canting, alat mengambil cairan malam untuk dilukiskan pada kain. Canting tradisional untuk membatik adalah alat kecil yang terbuat dari tembaga dan bambu sebagai pegangannya.

Alat lainnya wajan, sambung dia, digunakan untuk mencairkan malam pada saat membatik.  Kemudian kompor untuk memanaskan cairan malam yang ada dalam wajan.

“Setelah bahan dan alat sudah siap, dilanjutkan membuat pola di atas kain kemudian membatik,” kata Luthfi. (Ulin Nuha)