Tanda Suami yang Baik Bisa Dilihat dari Cara Mengetuk Pintu

239
Hikmah Press
Humaiyah/pwmu.co
Suharyo ketika mengisi pengajian Aisyiyah Ranting Patemon Kramat Sukoharjo dan Majelis Khoirun Nisa di Masjid Dakwah Al Huda.

PWMU.CO-Jodoh yang kita miliki sekarang adalah yang terbaik menurut Allah. Mensyukuri keberadaan suami sebagai amanah. Bagaimanapun keadaan suami saat ini, jangan pernah melirik apalagi tertarik kepada laki- laki lain.

Hal itu disampaikan Ketua PDM Lumajang Suharyo ketika mengisi pengajian Aisyiyah Ranting Patemon Kramat Sukoharjo dan Majelis Khoirun Nisa di Masjid Dakwah Al Huda, Jumat(11/1/2109).

iklan

”Cara yang bisa kita lakukan untuk mensyukuri keberadaan suami adalah dengan cara memandangi wajahnya ketika tidur,” kata caleg DPRD Jatim dari PAN nomor urut 3 ini.

”Saat memandangi sekaligus mengenang setiap kebaikannya. Seraya berkata ya Allah, semakin tua suamiku semakin ganteng. Semakin penuh warna putih di rambutnya, dia semakin memesona,” lanjut Suharyo disambut tawa renyah ibu-ibu.

Kemudian dia mencontohkan Rasulullah sebagai suami yang baik kepada istrinya. Cara Rasulullah mengetuk pintu ketika pulang terlambat dari berdakwah berbeda dengan ummatnya, katanya.

 ”Ketukan pertama agak keras, Bu,” kata Suharyo menuju pintu masjid sambil  mempraktikkan.

”Ketukan kedua pelan, ketukan ketiga tambah pelan. Nah, bagaimana dengan bapak-bapak?” tanya Suharyo.

”Kebalikannya, Pak,” serempak jamaah menjawab sambil tertawa.

”Iya. Malah kadang ketukan ketiga ditambah pakai kaki juga. Itu pun masih ditambahi dengan omelan marah, ” tegas Suharyo. Jamaah kembali tertawa.

Keluarga sakinah mawaddah warahmah, sambung dia, adalah keluarga yang di dalamnya tidak ada kekerasan. Baik kekerasan fisik atau psikis. Ucapan dan tindakan tidak kasar. Jangan sekali-kali membentak anak kecil. Sekali membentak anak, jutaan sel otak terputus dan tak bisa disambung lagi. Apalagi bila dilakukan berkali-kali.

”Hasil sebuah penelitian di sebuah rumah sakit, dari 1000 pasien yang meninggal hanya 70 orang yang  bisa mengucapkan kalimat laa ilaha illallah di akhir hidupnya. Setelah dilakukan penelitian dapat disimpulkan bahwa pasien yang bisa mengucap tahlil disebabkan istiqomah melakukan tiga hal, yaitu istiqomah menjaga shalatnya,  membaca Alquran, dan menjalin silaturahim,” tandasnya. (Humaiyah)