Debat Capres-Cawapres: Di Bawah Bayang-Bayang Mafia Pilpres

590
Hikmah Press
Anwar Hudijono (MN/PWMU.CO)

PWMU.CO – Jika tidak ada kejadian amat sangat luar biasa, nanti malam akan ada acara debat capres-cawapres yang akan disiarkan langsung teve. Acara ini ditunggu publik. Harus diakui Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai event organizer acara debat cukup piawai mem-branding acara agar memantik rasa penasaran publik.

iklan

Bisa jadi KPU mau mengelola debat pilpres ini sebagai politictainment, politik yang bermuatan hiburan. Bisa juga bernilai bisnis sehingga menjadi polibiz.

Mungkin KPU belajar dari bola bagaimana sebuah sport menjadi sportbiz. Setiap event bola, entah tingkat kompetisi lokal sampai Wolrd Cup, sudah lazim harus dipanasi agar memantik rasa penasaran publik untuk menonton. Semakin banyak penonton semakin banyak pendapatan dari karcis, semakin laris di teve. Bola adalah sebuah sportbiz, bisnis yang menjajikan profit besar.

Untuk itu, event organizer (EO) akan merancang dan membuat preview untuk branding. Misalnya, mewajibkan setiap yang hendak bertanding untuk memberi keterangan pada jumpa pers.

Dalam jumpa pers, EO akan menciptakan kondisi agar petanding memberikan statement yang provokatif. Lupakan kalimat-kalimat standar. Misalnya, kami siap bertanding. Siap tempur. Kami akan berusaha menang besar. Itu kalimat standar, klise tidak laku dijual.

Petanding diwajibkan menyerang calon lawannya sehingga pertandingan tidak cuma terjadi di lapangan hijau tetapi juga di press room. Jika perlu dua calon petanding dihadirkan bareng. Di situ saling mengejek, membully, memprovokasi sehinga suasana cepat mendidih, mirip preview tinju yang dibikin panas seolah sudah mau tarung.

Sebagai EO, KPU sangat cerdas menggoreng, mem-branding debat capres-cawapres nanti malam. Ibarat hendak membuat api unggun, pertama-tama KPU menyiramkan minyak soal-soal debat dikirim lebih dulu kepada kedua kandidat.

Jurus KPU ini menjadi polemik di ranah publik. KPU dianggap memerosotkan kualitas debat. Padahal untuk anak ujian nasional sekolah saja, termasuk untuk murid difabel, tidak ada bocoran soal. Untuk ujian putri Indonesia saja daftar pertanyaan sangat dirahasiakan.

Dibuat bal-balan publik, KPU lagi-lagi memberikan statemen kontroversial bahwa mekanisme soal atau kisi-kisi dikirim lebih dulu agar tidak ada kandidat yang dipermalukan. Publik menilai, lagi-lagi KPU kontroversial. KPU dituding melecehkan kandidat akan kesulitan menjawab pertanyaan lawannya.

Karena yang “dimainkan” KPU adalah sebuah event politik yang sangat penting, maka wajar kalau muncul tudingan KPU berpihak pada satu kandidat. KPU tidak adil. KPU sudah kena delapan enam. Tetapi KPU sudah kebal dari segala bully, cercaan, olok-olok, ibarat padi varietas unggul tahan wereng, menthek, walang sangit.

Mafia
Jurus kontroversial KPU menjadikan acara debat memang menjadi viral. Menjadi polemik. Rupanya pula menggelegakkan rasa penasaran publik untuk menyaksikan. Sampai ada yang menggelar nobar layaknya event bola.

Jika acara debat nanti malam menarik penonton, berarti KPU sukses sebagai EO. Bisa disesajarkan dengan EO Piala Dunia Rusia lalu. Di samping itu kesuksesan lain adalah diukur dengan jalannya pertandingan berlangsung fair play, produktif gol, lahirnya pemain-pemain brilian untuk menjaga marwah bola.

Tetapi KPU akan amburadul sebagai EO manakala penonton banyak tetapi EO mengatur skor pertandingan seperti yang biasa terjadi di sepak bola Indonesia. Pengaturan bola itu diduga melibatkan elite PSSI dan Liga Indonesia, pemilik klub, wasit dan hakim garis, pemain, makelar. Subyek-subyek itu kalau di politik adalah KPU, Bawaslu, pimpinan (pemilik) parpol, makelar (lembaga survei, pengamat), dan lain-lain.

Di bola, pengaturan skor itu sudah tingkat mafia. Di Liga Perancis bos mafioso bola yang pernah tertangkap adalah Bernard Tapie. Italia juga pernah dilanda kasus mafia bola jaman Paulo Rossi. Di Kolumbia, bos mafioso bola adalah bos kartel narkoba. Konon di Indonesia juga sudah mengarah kepada mafia.

Jika sampai debat capres-cawapres nanti malam merupakan bagian dari alur yang diatur oleh mafia, maka dunia politik Indonesia benar-benar kiamat. Maka subjek-subjek politik hanya jadi wayang-wayang yang dimainkan seorang dalang atau suatu sindikat dalang. Diangkat, disungsepkan, diadu-domba, diharu-biru ditelanjangi. Wayang dan lakon boleh bergati-ganti tetapi sindikat dalangnya tetap.

Mudah-mudahan tidak ada mafia di antara kita. Gusti Allah nyuwun pangapura. (*)

Kolom oleh Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo.