Kritik Pemerintah, Rocky Gerung Sebut Ada Hoax Statistik

1412
Pasang Iklan Murah
Rocky Gerung di UMSurabaya. (Aan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Pengamat politik Univeritas Indonesia Rocky Gerung mengkritik keras pemerintah sebagai tukang ngibul alias pembikin hoax ‘terbaik’.

iklan

Kritik itu dilontarkan Rocky ketika menjadi dosen dalam Kuliah Umum bertema “Membangun Nalar Kritis di Kalangan Kampus untuk Indonesia Berkemajuan” di Hall Lantai 13 At Tauhid Tower 13 Kampus Universitas Muhammadiyah (UMSurabaya) Jalan Sutorejo Surabaya, Selasa (29/1/19).

Rocky mengatakan, persoalan ekonomi terkait turunnya berberapa harga kebutuhan misalnya, secara statistik memang terbukti harga-harga justru semakin turun.

“Kalau dilihat secara statistik itu kan berarti tidak ada inflansi atau efek inflatoir dari APBN. Sebab memang harga-harga turun,” ujarnya.

Tapi, ia menerangkan, dalam ekonomi ada dua penjelasan terkait turunnya harga yaitu harga turun bisa terjadi karena tidak ada yang membeli, dan tidak mampu membeli. Akibatnya, otomatis harga akan turun.

“Jadi turunnya harga itu bukan karena faktor intervensi dari kebijakan pemerintah. Tapi karena daya beli emak-emak tidak tumbuh. Kan, itu anak ekonomi bisa tahu cepat. Harga-harga turun itu lebih disebabkan karena tidak ada barang yang laku. Kita harus tahu logika itu,” paparnya.

Rocky melanjutkan, begitu pula dengan pemberitaan media massa tentang listrik sepanjang Jawa surplus sehingga masyarakat tidak perlu takut kekurangan listrik. “Memang iya listrik di Jawa surplus,” ungkapnya.

Pertanyaannya adalah kenapa listrik bisa surplus? Menurut dia, itu karena pengguna utama listrik di Jawa yaitu industri banyak tutup. Juga terjadinya deindustrialisasi yang membuat listrik melimpah. “Nah, inilah cara-cara berbohong statistik hasil dari akal tidak normal,” kritiknya.

Sementara soal tidak ada kesenjangan dan ketimpangan sosial yang dilihat dari membaiknya indeks gini rasio, Rocky menyebut, gini rasio adalah alat untuk mengukur kesenjangan pengeluaran. Bukan pendapatan. Bukan pula kekayaan.

“Mahasiswa ekonomi semester dua tahu gini rasio itu diukur dari pengeluaran. Jadi kalau pengeluaran Rocky Gerung, mahasiswa, dan konglomerat sama Rp 10 ribu misalnya, dan petugas statistik datang kemudian mencatatnya. Hasilnya, tidak ada kesenjangan antara Rocky Gerung karena indeks gini rasionaya nol,” jelasnya.

Rocky pun menyinggung soal bagi-bagi sertifikat tanah yang dinilai sebagai hak masyarakat. “Bagi-bagi sertifikat tanah itu penipuan akal sehat. Iitu adalah hak masyarakat,” urainya.

Oleh karena itu, lanjut dia, butuh akal sehat untuk ‘menantang’ negara yang banyak ngibul-nya. “Jangan suka angguk-angguk kepala. Demi kesehatan intelektual kita harus berani menggelengkan kepala pada kekuasaan,” ujarnya. (Aan)