Sang Dewa dan Ketiga Anaknya

401
Hikmah Press



Reza Indragiri Amriel. (Dok pribadi/PWMU.CO)

PWMU.CO – Penampilan anak Ahmad Dhani pada konser Dewa 19 di Malaysia—di tengah dipenjarakan ayahnya—mendapat catatan khusus Reza Indragiri Amriel

Berikut delapan catatan yang disajikan PWMU.CO atas seizin Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) ini. Redaksi

Pertama, saya terharu sekali melihat video Al dan Dul menangis saat konser Dewa 19 di negeri jiran, Malaysia. Tapi sekaligus bangga melihat kedua putra Ahmad Dhani itu sanggup menuntaskan misi besar mereka.

iklan

Kedua, filosofi penghukuman modern adalah reintegrasi. Termasuk, dalam konteks orangtua dan anak, bagaimana sistem pemenjaraan tetap berupaya membangun program untuk merawat relasi pengasuhan orang tua dan anak.

Ketiga, salah satu pendekatan terapi psikologis adalah terapi musik. Ini sebangun dengan perkataan Rob Halford, vokalis Judas Priest, “Anger [sadness etc.] is such an honest human emotion. If you can channel it into music so much better.”

Keempat, pada satu sisi, keluarga Ahmad Dhani memiliki bakat musik istimewa. Pada sisi lain, teknologi komputer memungkinkan para musisi membuat komposisi utuh tanpa pernah bertemu tatap muka sama sekali.

Kelima, sudah banyak buku, lukisan, dan karya kreatif lainnya yang dihasilkan individu selama menjalani hukuman di dalam penjara. Di Tanah Air, yang paling melegenda adalah pledoi Indonesia Menggugat, tulisan Bung Karno di penjara Sukamiskin.

Keenam, bagaimana dengan artis yang menggubah lagunya dari balik jeruji besi? Di Amerika ada Mac Dre, X-Raided, dan 50 Cent. Lagu-lagu rap mereka direkam melalui saluran telepon dari dalam penjara.

Ketujuh, Ahmad Dhani, Al, El, dan Dul bisa meniru formula serupa. Bayangkan kedahsyatan yang bisa publik nikmati, yaitu album lengkap yang dihasilkan oleh kerja kompak sebuah keluarga. Keluarga yang tengah terpisah, terdiri dari ayah yang sedang bertapa sebagai Paman Doblang dan ketiga darah dagingnya yang saat ini tengah menjalani kehidupan dengan ‘kurikulum’ ekstra.

Kedelapan, bagi Ahmad Dhani, ini bukan semata pengajaran seni. Lebih krusial lagi, ini berpotensi kuat menjadi sebuah purwarupa bahwa pendidikan karakter bisa menembus dinding penjara.

“Kucoba kembangkan sayap patahku /‘Tuk terbang tinggi lagi di angkasa/Melayang melukis langit merangkai awan/Awan mendung” (Dewa 19, 2000).