Buka Musywil XVI, Saad Ibrahim: Pemuda Muhammadiyah Harus Jadi Tokoh Hari Ini, Syaratnya Lima

278
Hikmah Press
M Saad Ibrahim. (Aan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr M Saad Ibrahim resmi membuka Musyawarah Wilayah (Musywil) XVI Pemuda Muhammadiyah Jatim.

“Bismillahirrahmanirrahim. Saya buka Musywil XVI Pemuda Muhammadiyah Jatim,” katanya di Graha ITS Surabaya, Jumat (8/2/19).

iklan

Dalam sambutannya dia menyampaikan tentang ungkapan lama yang menyebutkan pemuda hari ini adalah tokoh masa depan. Sedangkan ungkapan yang baru adalah pemuda hari adalah tokoh hari ini.

“Ungkapan yang baru ini menghedaki proses jauh lebih cepat dari pada menunggu hari esok untuk menjadi tokoh,” terangnya.

Maka dari itu, kata Saad, setidaknya ada lima syarat yang perlu dipersiapkan agar kadar Pemuda Muhammadiyah bisa mempercepat proses dari syubbanul menjadi rizalul ini. Pertama, melandaskan diri dengan basis dan paradigma teologis.

Dosen Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini menerangkan, harus disadari menjadi tokoh adalah untuk menjaga risalah yang diamanatkan Allah SWT kepada para nabi, dan tokoh seperti itu tidak pernah dibatasi oleh waktu ketokohannya.

“Sejarah mencatat mereka yang ketokohannya dilandaskan kepada Allah SWT, maka ia tidak hanya menjadi tokoh di dunia, tapi juga tokoh di akhirat kelak. Nah, inilah syarat pertama untuk melakukan percepatan itu,” tuturnya.

Syarat kedua adalah harus bisa menjaga, memelihara, dan membangun karakter, serta kepribadian sebagai orang Muhammadiyah. Ketiga, lanjut dia, kader Pemuda Muhammadiyah harus senantiasa meningkatkan kualitas diri. Salah satunya dengan berilmu pengetahuan.

“Siapa pun akan diperlakukan sesuai dengan kualitas yang dimilikinya. Ayam akan tetap disebut ayam. Sedangkan burung Elang akan tetap disebut Elang,” urainya.

Maka dari itu, serunya, tuntutlah dan kuasailah ilmu karena orang modern menyimpulkan ilmu pengetahuan (science) adalah power. “Bangsa manapun yang terlambat memangku ilmu pengetahuan, maka akan menjadi bangsa yang tertinggal,” ungkapnya.

Syarat keempat, lanjutnya, adalah memiliki kemandirian dalam segi apapun. “Kemandirian akan membuat kader Pemuda Muhammadiyah tidak terdifinisikan. Sebaliknya, mendifinisikan masa depan bangsa ini,” jelasnya.

Kelima adalah harus tetap tidak tercerabut dari kontek kekinian dan sebagai bagaian dari bangsa Indonesia. “Insyaallah, dengan lima hal tersebut kader Pemuda Muhammadiyah akan mendifinisikan umat, bangsa, dan kemanusiaan,” (Aan)