Membangun Perilaku Positif Siswa Tak Berbiaya tapi Besar Artinya bagi Kehidupan

114
Hikmah Press
Gatut Samuel. (Foto Nur Aini Ochtavia/PWMU.CO)

PWMU.CO – SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik mengikutkan 20 gurunya dalam kegiatan School to School Conference yang diadakan Sekolah Ciputra Jalan Puri Widya Kencana, Citraland, Surabaya, Sabtu (9/2/19).

Beberapa kegiatan workshop dengan tema tentang pendidikan disajikan dengan variatif sesuai pilihan peserta konferensi. Salah satu tema workshop yang diikuti para pimpinan sekolah adalah Manner Matter: A School Leader’s Perspective yang difasilitasi Gatut Samuel, mantan Kepala TK dan SD Ciputra tahun 2011-2017 tersebut.

“Seorang pimpinan sekolah mengambil peranan penting untuk membangun perilaku atau manner positif di sekolah,” kata Curriculum Coordinator Sekolah Ciputra itu. 

“Strategi think, pair, and share bisa digunakan untuk menentukan perilaku positif sebagai budaya sekolah. Pertama think, pikirkan manner positif dalam aktivitas sehari-hari berdasarkan sudut pandang tiap guru,” ujar Samuel.

“Langkah selanjutnya, pair. Silakan cari partner atau pasangan sesuai bentuk kertas yang diberikan,” kata dia sambil menjelaskan strategi pengelompokan yang efektif dari kertas yang dibagikan ke peserta sebelumnya.

iklan

“Ketiga share. Silakan sharing-kan manner positif apa yang sudah atau perlu untuk dilakukan di sekolah masing-masing,” ucapnya dengan mengaktifkan antarpeserta untuk berdiskusi.

This workshop will explore the role of school leaders in helping teachers and parents to support students in developing the kinds of polite and respectful connection with other that are the foundation of a productive and successful life,” ungkapnya.

Kegiatan workshop ini, jelasnya, untuk menggali peran pimpinan sekolah untuk membantu guru dan orangtua siswa dalam mengembangkan sikap positif yang merupakan dasar kesuksesan hidup.

Menurutnya, untuk keberhasilan pengembangan perilaku positif di sekolah ada tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama adanya sistem yang mendukung. “Sebagai pimpinan sekolah, bagaimana kita bisa mendesain suatu sistem di sekolah agar manner warga sekolah menjadi lebih baik,” ujarnya.

Kedua, infrastruktur yang terintegrasi. Dan ketiga adalah pembiasaan. “Mari kita melakukan refleksi apakah sekolah kita sudah save (aman) untuk anak-anak secara fisik, emosional, sosial, ataupun secara psikologis?” tanya dia.

Sambil menunjukkan ilustrasi melalui video perilaku positif di Jepang Samuel pun menjelaskan bagaimana cara mendesain agar sistem di sekolah mendukung manner positif anak dengan baik dan efektif dalam pelaksanaannya.

“Saat ini menjadi trend global bahwa student safety menjadi ranking satu harapan orangtua. Anak merasa aman dan nyaman di sekolah secara fisik. Merasa nyaman berinteraksi dengan warga sekolah yang lain. Aman secara sosial. Aman secara emosional, tidak ada bullying di sekolah. Secara psikologis, mereka bisa belajar dengan optimal,” tambah Samuel.

Di akhir sesi workshop, Samuel mengetakan, “Manner cost nothing but mean everything (perilaku positif tidak memerlukan biaya mahal tapi mempunyai nilai yang sangat bermakna dalam kehidupan).”

Gatut Samuel (ketiga dari kanan) bersama Ahmad Faizun (ketiga dari kiri) dan beberapa guru SDMM. (Foto: Siti Rondiyah/PWMU.CO)

Kepala SDMM Ahmad Faizun SSos yang mengikuti kegiatan tersebut mengatakan, “Kegiatan workshop ini bermanfaat untuk bisa membangun sistem yang lebih baik lagi dalam pembentukan manner positif,” ujarnya.

Dari workshop ini, sambungnya, kita juga mengetahui langkah strategis yang perlu dilakukan dalam mewujudkan sistem tersebut. “Tidak kalah pentingnya adalah membangun komitmen bersama bagi warga sekolah dan wali siswa dalam pembiasaan dalam sistem,” ungkapnya.

Sebagai tindak lanjut workshop ini, dia melanjutkan, kami akan menyosialisasikan hasilnya ke guru dan karyawan. Kemudian membuat kesepakatan bersama untuk bisa menindaklanjuti sebagai penyempurnaaan sistem di SDMM yang sudah ada.

“Cara yang paling efektif dalam pelaksanaan manner positif ini adalah memberikan keteladan nyata. Tidak hanya mampu bertutur kata ke siswa tapi bisa menunjukkan sikap positif kita ke siswa,” ayah tiga anak putri ini. (MFA)