Tantangan Prof Zainuddin Maliki pada Guru yang Punya Siswa Jujur saat Ujian Nasional

108
Pasang Iklan Murah
Zainuddin Mailik di Babat. (Mardiyana/PWMU.CO)

PWMU.CO Innamal a’malu binniat, sesungguhnya segala amal tergantuang niatnya. Jika niat pendidik dalam menjalankan perannya ternyata belum baik maka yang terjadi adalah education but not educating (pendidikan yang tidak mendidik).

Prof Dr H Zainudin Maliki Msi menyampaika hal itu ketika menjadi pemateri di acara Diklat/Pembekalan Guru Muhammadiyah Se-Cabang Babat, di SMK Muhammadiyah 5 Babat, Lamongan, Ahad (10/2/19).

Dalam kegiatan yang diadakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Babat itu, Zainuddin membawakan materi bertema “Menanamkan Softskills dalam Pembelajaran”.

“Kapan Anda berniat menjadi guru?” Itulah pertanyaan pemantik yang disampaikannya pada forum yang dihadiri oleh 85 guru, berasal dari SMPM 1 Babat, SMPM 26 Patihan, SMAM 1 Babat, dan SMKM 5 Babat.

Tidak sedikit peserta yang kebingungan untuk menjawab pertanyaan tersebut sehingga Zainudin melanjutkan materi dengan menyampaikan, “Niat adalah modal utama saat kita akan melakukan suatu kegiatan.”

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim itu lalu menceritakan pengalaman pribadi sebagai seorang pejuang di bidang pendidikan.

Peserta cukup antusias mendengarkan cerita Penasihat Dewan Pendidikan Jatim itu. Namun suasana yang hening pun pecah saat Zainudin menyampaikan, “Saya juga merasa tersesat tapi di jalan yang benar.” Maksudnya, jadi pendidik itu sebuah kemuliaan alias jalan yang benar, tetapi sering banyak yang salah saat merancang niatnya.

Menyingung soal ujian nasional (UN) mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya itu menyampaikan, UN hingga saat ini belum bisa menjadi tolak ukur pencapaian pendidikan karakter. “Karena kejujuran belum bisa diamalkan oleh peserta didik saat UN, meskipun Dinas Pendidikan telah menyatakan bahwa adanya ujian nasional berbasis komputer (UNBK) menjadikan peserta didik untuk mengerjakan dengan jujur,” ucapnya.

Ternyata, sambung dia, hal tersebut berbanding terbalik dengan pernyataan, “Jujur adalah ketika ada peluang dan kesempatan untuk curang namun dia tetap melakukan yang baik.”

Tidak sekadar memberikan materi, Calon Anggota DPR RI dari PAN Dapil Lamongan-Gresik nomor 2, ini juga menantang para guru yang memiliki murid jujur pada saat UN. Agar mereka menyampaikan informasi kepada dirinya agar mendapatkan reward (imbalan).

Zainudin menutup pertemuan dengan kalimat motivasi, “Modal untuk menyampaikan materi pembelajaran adalah dengan mengetahui karakter peserta didik.” (Mardiana)