Semangat untuk Bisa Membaca Alquran Mbah-Mbah Ini Patut Dicontoh

145
Pasang Iklan Murah
Asyhari sedang mengajari ibu-ibu yang ditemani cucunya. (Su’ud/PWMU.CO)

PWMU.CO – A-ba, ba-ba, ta-tsa. Suara terbata dan terputus-putus itu, terdengar lantang di dalam ruang Masjid Alwalidain Yusuf Wassalam yang dikelolah Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Desa Lebak, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan.

Suara saling bersahut-sahutan itu bahkan mengalahkan ‘nyanyian’ jangkerik dan katak malam itu. Sesekali terdengar canda dan saling ‘ejek’ di antara mereka.

Malam itu, Rabu (13/2/19), PWMU.CO mengunjungi masjid berukuran 7 x 9 m yang berada di area persawahan d dekat kampung itu. Ada enam ibu dan tiga bapak sedang belajar membaca Alquran dengan metode Iqra’. Beberapa di antera mereka membawa cucunya.

Meski sudah berusia lanjut, tapi tak terlihat rasa malu dan canggung. Mbah Mijah, salah satu peserta, mengungkapkan kesannya selama belajar. “Aku geton, kok lage sadar gelem blajar moco Alquran. Kok ora biyen-biyen (Saya menyesal baru belajar membaca Alquran. Kok tidak dulu-dulu)” tutur ibu berusia 62 tahun ini.

Ungkapan senada juga disampaikan oleh lima peserta yang lain.”Pumpung onok waktu, kanggo sangune mati (Mumpung ada waktu, untuk bekal mati),” ungkap Utomo (54), muadzin yang juga ikut jadi peserta.

iklan
Dokumentasi saat Asyhari (kanan) berbincang dengan tiga murid dan jamah lain usai belajar Iqra’. (Istimewa/PWMU.CO)

Ustadz Asyhari, pengasuh di Masjid Alwalidain Yusuf Wassalam ini mengungkapkan keharuannya atas semangat dan kesabaran jamaah untuk bisa membaca Alquran. “Sungguh ini karunia Allah yang sangat besar. Di usia senja mereka terketuk untuk mencintai kalam Allah,” urai pria yang juga guru di SMK Muhammadiyah 6 Modo ini. Dia mengajar mereka empat kali dalam sepekan.

Asyhari, diangkat oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Modo, sebagai dai khusus yang ditugaskan untuk menghidupkan dan memakmurkan masjid bantuan dari donator asal Timur Tengah itu. Dia sekaligus bertugas memberikan pembinaan kepada jamaah.

Asyhari menceritakan pengalamannya selama dua bulan mem-privat sembilan orang jamaah tersebut. “Wajar, mereka sudah tua-tua. Jadi daya serap dan ingatnya sangat lambat. Tapi mereka tidak putus asa, walau terbata-bata melafalkan, mereka tetap mau belajar,” ungkap pria asal Dukun, Gresik, yang kini tinggal di Desa Bluluk, Kecamatan Bluluk, Lamongan, ini.

Masjid Alwalidain Yusuf Wassalam ini menempati lahan wakaf dari Bu Sarmining. Berjarak tiga kilometer dari Ibu Kota Kecamatan Modo. Karena mayoritas penduduk setempat berprofesi petani, maka masjid ini nyaris tidak ada aktivitas shalat berjamaah Dhuhur dan Ashar. “Karena mereka masih bekerja di ladang dan sawah,” ujar Asyhari.

Ketua PRM Lebak Sumanutno, atau yang akrab dipanggil Pak Beni, menuturkan tentang kondisi masyarakat Lebak yang masih natural. “Butuh kesabaran dan ketelatenan mendakwai mereka,” ungkapnya.

PRM Lebak, Modo merupakan PRM ke-21 dari 24 PRM di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Modo. Saat ini PRM Lebak beranggotakan 20 orang dan lebih dari 50 simpatisan. (Mohamad Su’ud)