Persaingan Ketat di Era Digital, Ini yang Harus Dilakukan Lazismu

55
Pasang Iklan Murah
Suasana pertemuan. (Aan/PWMU.CO)

PWMU.COFounder (pendiri) Naraya Grup Budi Suryanto mewanti-wanti para penggerak Lazismu daerah se-Jatim untuk tidak cepat berpuas diri dengan capaian yang kini diperolehnya.

Pasalnya, ‘persaingan’ dalam penghimpunan zakat, infak, sedekah, dan dana kemanusiaan (Ziska) antar-lembaga amil zakat (LAZ) sangatlah dinamis, sejalan dengan perkembangan zaman yang serba digital.

iklan

“Sekarang era sudah berubah serba digital, kalau Lazismu tidak mau berubah mengikuti perkembangan zaman, maka Lazismu akan kalah dengan LAZ lainnya,” katanya dalam rangkaian acara Pelatihan Jurnalistik Filantropi, Sabtu (23/2/2019).

Acara tersebut diadakan oleh Lazismu Jawa Timur di Gedung Muhammadiyah Jatim, Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya. Budi pada kesempatan itu memaparkan materi “Marketing dan Branding untuk Fundraising”.

Budi menyebutkan, ada beberapa tantangan marketing (pemasaran) dan branding (pemerekan) yang harus dihadapi oleh Lazismu untuk bisa memenangkan persaingan merebut hati donatur. Pertama, Lazismu harus bisa mengenali target donatur.

Ia menerangkan, pengenalan terhadap donatur diperlukan untuk memperoleh gambaran tentang prilaku donatur dalam berdonasi untuk mempermudah perencanaan strategi fundraising (penggalangan dana).

“Kita harus bisa mengenali siapa donatur Lazismu, apa yang menarik mereka berdonasi, dan apa yang membuat mereka memutuskan untuk menyumbang?” paparnya.

Kemudian, lanjut dia, tantangan yang kedua adalah perhatikan para pesaing Lazismu. Sebab, pesaing sejatinya adalah partner (rekanan) dalam melakukan kompetisi secara sehat dan membaikan,” terangnya.

“Nah, kompetitor Lazismu dalam penghimpunan Ziska bukan hanya sesama LAZ Islam. Tapi juga LAZ non-muslim. Maka, kita harus bisa belajar dari kelemahan para kompetitor itu,” tegasnya.

Yang ketiga, lanjut Budi, perhatikanlah kebutuhan dari donatur. “Kasih donatur informasi jelas tentang Lazismu dan beri kenyamanan dalam proses komunikasi secara personal. Kita juga harus transparan dan memberikan solusi buat donatur,” tuturnya.

Keempat adalah mempromosikan produk dan raihlah konsumen atau donatur. Budi menerangkan, sekarang ini saluran promosi kian beragam. Mulai dari saluran online menggunakan media sosial maupun secara offline.

“Nah, promosi secara kontinyu melalui berbagai saluran itu akan menciptakan konsumen,” tandasnya. (Aan)