Berharganya Sekian Detik bagi Penyelamatan Pasien, Aktivasi Code Blue Harus Kurang dari 5 Menit

278
Pasang Iklan Murah
Para peserta dibagi menjadi kelompok kecil untuk berlatih menyelesaikan kasus dengan Form EWS. (R3W/PWMU.CO)

PWMU.CO – Berbagai teknik pelayanan medis rumah sakit pada pasien menjadi topik menarik dalam Seminar dan Pelatihan Penatalaksanaan Early Warning Score dan Aktivasi Sistem Emergency Code Blue di Rumah Sakit, yang digelar Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, di Hotel Amaris Surabaya, Sabtu-Ahad (23-24/02/19).

Pada Sabtu, acara terdiri dari beberapa sesi. Sesi pertama membahas tentang ‘Code Blue: Skill and System Approachment’ oleh dr Corona Rintawan Sp Em dari Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML). “Perawat atau petugas medis harus memahami tentang Early warning Score (EWS) dan Code Blue System di rumah sakit,” ujarnya.

iklan

Menurut Corona, EWS harus lebih ditekankan agar angka kejadian code blue menurun. “Dan jika kejadian code blue meningkat, maka sistem, proses, dan struktur tim code blue harus dievaluasi,” tuturnya.

Materi selanjutnya membahas tentang ‘Penatalaksanaan Code Blue di Rumah Sakit’ oleh Tim Code Blue RSML, Karsim SKep Ns MKep. Ia menjelaskan, aktivasi code blue—penanganan pertama dan segera untuk pasien dengan henti jantung dan atau henti nafas—di rumah sakit harus berjalan dengan cepat, respon time (waktu tanggap)-nya harus kurang dari 5 menit karena setiap detik akan sangat berarti bagi nyawa pasien.

“Oleh karenanya, harus ada nomor telepon atau nada alarm khusus untuk aktivasi code blue di rumah sakit,” pesan Karsim.

Saat menyanyikan Kemesraan. (R3W/PWMU.CO)

Setelah sesi istirahat shalat Duhur dan makan siang, para peserta diajak membahas tuntas tentang “Early Warning System (EWS): Intra Hospital Alarm for Clinical Deterioration Condition”.

Lina Melati SKep Ns, pembicara materi ini, mengungkapkan dengan jelas dan menarik bagaimana cara mendeteksi secara dini penurunan kondisi pada pasien, baik itu pasien anak-anak, dewasa, maupun pasien maternitas.

“Ada tiga kata kunci penting dalam EWS, yakni deteksi dini, ketepatan waktu, dan kompetensi klinis,” ujarnya.

Lina melanjutkan, ada tiga macam EWS berdasarkan klasifikasi pasiennya. “Pertama, The Irish Maternity Early Warning System Score untuk pasien-pasien maternitas (kehamilan). Kedua, Early Warning System Score untuk pasien dewasa. Dan yang ketiga, The Pediatric Early Warning System Score untuk pasien anak-anak,” tambahnya.

Tak cukup hanya mendengarkan materi, para peserta diajak langsung berlatih menggunakan Form EWS. Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok kecil, yang terdiri dari kelompok kasus pediatric (anak), kasus dewasa, dan kasus maternitas (kehamilan). Dalam kelompok kecil ini, para peserta diberikan contoh kasus dan diajak untuk bersama-sama belajar mengaplikasikan Form EWS serta sistematika tindak lanjut penanganan klinisnya.

Pada malam harinya, para peserta yang sudah mendapatkan materi dan skill (ketrampilan) dari pagi hingga sore hari diajak untuk saling berkenalan dan mengakrabkan diri dengan peserta lainnya.

Acara semakin semarak dengan adanya game lempar bola untuk saling mengenal. Acara ditutup dengan bernyanyi bersama lagu Kemesraan yang dipopulerkan Iwan Fals. (R3W)