Pemprov Jatim Ajak Nasyiah Atasi Problem Gizi Anak dan Stunting

104
Pasang Iklan Murah
drg Sulvy Dwi Anggraini (dua dari kiri) menerima cinderamata dari panitia. (Nia Ambarwati/PWMU.CO)

PWMU.CO – Ada tujuh masalah berkaitan dengan gizi yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur.

Yaitu angka kematian bayi (berat bayi lahir rendah), angka kematian ibu, imunitas (penyakit menular), metabolisme (diabetes milletus), gangguan vaskuler (jantung dan stroke), produktivitas masyarakat, dan kemiskinan.

Hal itu disampaikan Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Pemprov Jatim drg Sulvy Dwi Anggraini MKes dalam Pelatihan Motivator Pashmina (Pelayanan Remaja Sehat Milik Nasyiatul Aisyiyah) Wilayah Kerja Arek, di gedung A Universitas Muhammadiyah Surabaya Ahad, (24/02/19).

“Ada keterikatan antara masalah gizi dengan masalah kesehatan lainnya,” ujar dia yang membawakan materi Kebijakan Keterlibatan Organisasi Masyarakat dalam Penanggulangan Masalah Gizi di Jawa Timur“.

Sulvy juga menyebutkan jika bangsa Indonesia saat ini menghadapi masalah gizi berganda pada anak dan balita. “Artinya selain menghadapi masalah kurang gizi juga terjadi masalah gizi berlebih,” ungkapnya.

Karena itu, di depan 60 peserta dari 16 kabupaten/kota se-Jawa Timur dia mengajak seluruh sektor, termasuk Nasyiatul Aisyiyah alias Nasyiah, untuk fokus pada kebijakan mengenai gizi dan stunting—anak atau balita yang mengalami hambatan pertumbuhan fisik.

“Ada empat fokus kebijakan gizi yang bisa dilakukan oleh Nasyiatul Aisyiyah. Yaitu pendidikan gizi, suplementasi gizi, tatalaksana gizi, dan surveilans gizi. Lalu fokus untuk stunting dilaksanakan sesuai dengan siklus kehidupan pada ibu hamil dan bagi di 1.000 hari pertama kehidupan,” urainya.

Untuk menurunkan angka stunting, Sulvy berharap ada kerjasama dengan Nasyiah dengan cara melakukan pemantauan tumbuh dan kembang balita, penguatan layanan kesehatan masyarakat tingkat desa, akses makanan sehat, pencegahan penyakit, perilaku hidup bersih dan sehat penataan lingkungan sehat, intervensi 1.000 hari pertama kelahiran, serta sosialisasi gizi seimbang,” papar dia. (Nia Ambarwati)