Siswa-siswi Ini Takjub pada Petani berkat Kegiatan Experiential Learning

82
Pasang Iklan Murah
Seorang siswa sedang memanen terong. (Anis Shofatun/PWMU.CO)

PWMU.CO – Selain membuat sabun alami dari minyak sawit dan susu kambing, kegiatan Experiential Learning siswa-siswi SMP Muhamamdiyah 12 GKB (Spemdalas) Gresik bersama Universitas International Semen Indonesia (UISI), Selasa (26/2/19), juga diisi dengan bercocok tanam holtikultura.

Sebanyak 60 siswa yang tergabung dalam kelas Science Project ini terjun langsung untuk praktik menyemai bibit, mengolah lahan, menanam, hingga memanen hasil tanaman hortikultura di lahan hijau Kampus C UISI, di Jalan Siti Fatimah binti Maimun Gresik.

Empat tanaman hortikultura menjadi media belajar siswa yaitu sawi pakcoy, belimbing madu, tomat, dan terong.

iklan

Marshafina Aulia Larasati, peserta dari kelas 7E, merasa senang dapat memahami strategi mengendalikan gulma di sekitar tanaman. Begitu pula cara mengontrol kadar air dan mengatur komposisi pestisida sehingga terong (Solanum melongena) dan tomat (Solanum lycopersicum) bisa dipanen tiap 60-70 hari dan bahkan bisa berulang. “Terong siap panen bila berwarna ungu sementara kalau tomat akan dipanen mengikuti selera konsumen,” kata Marsha.|

Sementara Lingga Ananta, siswa kelas VIII merasakan pengalaman mencangkul tanah untuk kali pertama. Selama ini ia kurang tertarik dengan kegiatan tanam-menanam. “Ternyata para petani itu perjuangannya keras ya, dalam kondisi panas tetap sabar merawat lahannya,” kesan Ananta yang turut langsung mencangkul lahan saat menanam belimbing madu.

Berbeda lagi dengan yang dirasakan oleh Dzulkifli Dzaki. Dia mendapakan kesan jika seorang petani itu hebat. “Petani itu dapat memberi makan banyak orang, dapat merawat lingkungan, dan juga membudidayakan sesuatu yang bermanfaat,” tuturnya.

Koordinator kegiatan Siti Uswatul Hasanah SPd menerangkan ini baru dua langkah awal dari tahapan experiential learning (belajar dengan pengalaman) yaitu concrete experience (pengalaman nyata) dan reflective observation (merefleksikan hasil pengalamanya dengam berbagai segi). “Sementara tahap ketiga dan keempat yaitu abstract conceptualisation (mengkonstruk ulang konsep-konsep yang ditemukan) dan active experiment (memodifikasi eksperimen baru) akan dilanjutkan di sekolah,” terang Uswah. (Anis Shofatun)