Guru Ini Hibahkan Buku Terbarunya untuk Perpustakaan Sekolah Muhammadiyah Se-Kabupaten

182
Pasang Iklan Murah
Ichwan Airf (kiri) saat menyerahkan buku secara simbolis kepada Kepala MTsM 6 Panceng Anshori. Didampingi tiga kepala sekolah lain. (MN/PWMU.CO)

PWMU.CO – Hibah buku untuk perpustakaan sekolah Muhammadiyah se-Kabupaten Gresik mewarnai Festival Faqih Usman (FFU) Ke-3 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), Sabtu (2/3/19).

Adalah Ichwan Arif SS MHum yang menghibahkan buku berjudul Merawat Singa Kreatif The Power of Creative terbitan Kanzun Book Sidoarjo. Buku karya guru SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik itu baru saja terbit. Karena itu kesempatan tersebut sekaligus menjadi momentum peluncuran buku kedua Arif. Buku pertama dia berjudul 10 Permainan Melatih Anak Menulis Cerita.

Dalam kesempatan tersebut Arif secara simbolis menyerahkan bukunya kepada empat pimpinan sekolah yang hadir dalam pembukaan acara.

Sekretaris Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik M Fadloli Aziz SSi MPd menerangkan, hibah buku ini sebagai momentum yang tepat untuk memotivasi guru dan siswa untuk menulis, sebagai bentuk gerakan literasi sekolah Muhammadiyah,” ungkapnya di sela acara yang diselengarakan Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gresik dengan Prodi Pendidikan Guru SD UMG.

Dia mengatakan, Majelis Dikdasmen PDM Gresik sangat mendukung dan bangga dengan terbitnya karya guru dan siswa sekolah Muhammadiyah. “Kami juga mengucapkan terima kasih atas hibah buku untuk semua perpustakaan sekolah Muhammadiyah se-Kabupaten Gresik, yang berjumlah 79 sekolah,” tuturnya.

Dalam pidato singkatnya sebelum penyerahan hibah, Arif menyampaikan bahwa gerakan literasi di sekolah harus dimulai dari guru, baru kemudian siswa. “Guru harus kembangkan literasi dulu, baru menginspirasi atau mengajak siswa berliterasi,” ujarnya.

Menurut dia, guru harus punya waktu untuk menulis. “Karena itu bagian dari membuat sejarah,” ucap lulusan S-2 Kajian Sastra dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya Unair itu. Keilmuan guru, sambungnya, akan semakin kuat kalau mereka memiliki budaya baca-tulis.

Kepada PWMU.CO, Arif bercerita, di tengah kesibukannya menjadi guru, dia masih bisa menyempatkan diri untuk menulis buku. “Saya menulis buku ini saat Sabtu dan Ahad di rumah. Sedangkan sehari-hari menulis pukul 20.00-24.00,” jelas dia.

Kalau di sekolah, lanjutnya, hanya mengedit ketika tidak ada jam mengajar. “Karena itu untuk menyelesaikan buku ini saya butuh waktu tiga tahun,” ungkap Kontributor PWMU.CO yang sangat aktif tersebut.

Rupanya Arif hendak memberikan contoh nyata kepada para guru yang mengajar di sekolah full day. Sesempit apapun waktu, masih bisa menulis buku. Asal ada komitmen, tentu. (MFA)

iklan