Prof Zainuddin Maliki: Berlangsung Plutokrasi di Indonesia, Pilihlah Pemimpin yang Kuat dan Bisa Dipercaya

378
Pasang Iklan Murah
Zainuddin Maliki. (ZAW/PWMU.CO)

PWMU.CO – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim Prof Dr Zainuddin Maliki MSi menengarahi sedang berlangsung plutokrasi di Indonesia yaitu plolitik yang dikendalikan oleh pengusaha.

“Di mana pengusahalah yang seakan memiliki negara,” ucapnya saat menjadi pembicara dalam seminar bertema Resolusi Politik Bermartabat dan Kedaulatan Ekonomi dari Muhammadiyah untuk Bangsa. Seminar diadakan dalam rangka Musyawarah Daerah XVI Pemuda Muhammadiyah Daerah Kabupaten Gresik di Hotel @HOM Premiere Gresik Kota Baru (GKB), Sabtu (9/3/19).

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya dua periode itu juga memaparkan tentang atmosfir baru Indonesia yang perlu di-muhasabahi. “Di mana posisi Indonesia dibandingkan global?” tanyanya.

iklan

Zainudin juga menyingung soal ironi Indonesia sebagai negeri dengan penduduk mayoritas Islam. “Sekarang memiliki 10 pengusaha terkaya. Tapi ironisnya 9 pengusaha itu semuanya dipegang oleh mereka yang non-Muslim,” ucapnya.

Calon Anggota DPR RI dari PAN Dapil Lamongan-Gresik nomor urut 2 itu menjelaskan semua itu terjadi karena— meminjam—Imam Al-Ghazali, “Buruknya masyarakatnya akibat buruknya para pejabat; buruknya pejabat akibat buruknya ulama; buruknya ulama disebabkan oleh harta dan gila hormat atau kedudukan.”

Karena itu Zainuddinn mengimbau agar Pemuda Muhammadiyah di abad 21 ini membangun sinergi dan jaringan dalam membangun usaha. “Bukan lagi kompetisi tapi networking,” ucapnya.

Urgensi lainnya, kata Zainuddin, Muhammadiyah harus melakukan jihad politik untuk, di antaranya, membendung cengkraman para plutokrat.

Oleh karena itu Zainudin mengingatkan agar tidak bermain-main dalam memilih pemimpin. “Jangan gadaikan suara. Apalagi hanya dengan harga murah,” pesannya.

Ia mengajak seluruh warga persyerikatan, termasuk Pemuda Muhammadiyah untuk memastikan melalui pemilu 2019 nanti memilih pemimpin benevolent. Yaitu pemimpin yang kuat, bisa dipercaya, jujur, cerdas, dan komunikatif sehingga bisa membebaskan, memberdayakan, mencerahkan, menyejahterakan, dan melindungi rakyat.

“Seperti Nabi Muhammad yang ketika beliau meninggal Umar bin Khattab sangat kehilangan,” ujarnya.

Menjawab pertanyaan inovasi apa yang bisa mengawal kebijakan publik yang telah dikuasai oleh asing, Zainuddin menjawab: inovasi yang bisa menjawab krisis kepemimpinan. “Maka perlu memilih pemimpin yang dalam janjinya adalah berani untuk merebut kembali apa yang dikuasai asing,” ujarnya. (ZAW)