Ini Tanggapan Dahnil soal Spanduk Larangan Bicara Politik di Masjid

672
Pasang Iklan Murah
Dahnil Anzar Simanjuntak di Masjid Taqwa GKB. (Anam/PWMU.CO)

PWMU.CO – Banyak yang sepertinya melakukan perbaikan akan tetapi sebenarnya mereka melakukan kerusakan.

Pernyataan itu disampaikan oleh Dahnil Anzar Simanjuntak dalam Kuliah Subuh di Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah 12 GKB, Gresik, Ahad (10/3/19).

“Banyak yang mengaku memerangi ekstremisme, anti-radikalisme, dan paling Pancasilais, tapi memecah belah umat. Bahkan Muhamadiyah pernah ditanyai apa peran dan kontribusiya terkait eksistensi Pancasila,” ungkapnya.

Katua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah periode 2014-2018 ini menegaskan, “Abdul Kahar Muzakkir dan Kasman Singodimejo adalah contoh dari kontribusi Muhammadiyah untuk negara.”

Dahnil juga menyinggung isu-isu panas jelang Pemilu 2019. “Tadi saya lihat banner ada larangan tidak boleh bicara politik di masjid ya?” ucapnya. Menurut Dahnil, pemasangan banner (spanduk) tersebut menandakan ketidakpahaman terhadap Islam.

“Narasi tanpa subtansi,” ucapnya. Dahnil menegaskan, masjid adalah tempat Rasulullah dan para Sahabat belajar dan mengatur strategi. “Ini kan termasuk politik,” ungkapnya.

Menurut Wakil Ketua Lembaga Hikmad dan Kbijakan Publi (LHKP) Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini, dalam berpolitik ada dua yang perlu diperhatikan. “Menjaga agama dan menuiasati dunia” jelasnya. “Saya yakin kader Muhammadiyah yang terjun dalam politik juga dalam rangka menjaga agama.”

Dahnil lalu mengutip fatsun berpolitik yang disampaikan oleh HOS Cokroaminoto. “Murni tauhid, tinggi ilmu, dan pintar siasatnya,” ujarnya.

Tauhidnya harus murni karena kemurnian tauhid mendorong untuk melakukan kebenaran. “Melakukan amar makruf nahi mungkar,” jelasnya.

Seorang politikus, sambung dia, juga harus pintar. “Artinya mencerahkan” jelasnya. karena peradaban Islam tidak meninggalkan simbol-simbol fenomenal akan tetapi tradisi ilmu pengetahuan.

Firaun meningalkan Spinx dan piramid yang fenomenal akan tetapi dibangun dari perbudakan dan nyawa rakyatnya. Ketika tradisi ilmu pengetahuan dijaga maka yang muncul adalah Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan lainya. “Akan tetapi penghormatan kita terhadap orang yang berilmu (guru) masih kurang,” jelasnya.

Dalm hal bersiasah (politik) atau bermuamalah maka harus sesuai dengan Alquran dan Assunah. Dalam bermuamalah, semuanya boleh kecuali yang dilarang. “Akan tetapi tidak boleh akhlak saja tapi harus mengerti syariat,” jelasnya. (Khoirul Anam)

iklan