Kesaksian Wartawan Senior: Kualitas Umat Islam Meningkat tapi Kuantitasnya Menurun karena Pemurtadan

273
Hikmah Press
Anwar Hudijono. (MN/PWMU.CO)

PWMU.CO – Wartawan senior Anwar Hudijono memberikan catatan menarik tentang kondisi umat Islam Indonesia saat memasuki tahun ke-40 di abad 15 Hijriyah.

“Bapak Ibu yang seumur dengan saya masih ingat tahun 70-an itu ada gerakan di kalangan umat Islam, namanya: Gerakan Kebangkitan Islam. Sekarang ini luar biasa, dalam waktu 40 tahun terjadi kemajuan kualitas umat Islam,” ungkapnya pada jamaah Pengajian Ahad Pagi Masjid At Taqwa, Wisma Sidojangkung Indah Menganti, Gresik, (3/3/19).

Menurut Ano, sapaan akrabnya, ada tiga indikator meningkatnya kualitas umat Islam. Pertama, semaraknya jilbab. Menurutnya, sekarang ini, jilbab sudah menjadi pakaian sehari-hari. Berbeda dengan awal-awal abad kebangkitan Islam itu digaungkan. “Tahun 70-an itu ibu saya pun masih pakai kerudung biasa. Kudung Jawa itu pake kebaya itu. Kainnya rada-rada tipis,” ujarnya mengenang.

Semaraknya jilbab itu karena Allah yang menggerakkan jiwa para wanita. “Pasti rekayasanya Allah melalui seorang artis namanya Ida Royani. Bapak Ibu yang seumur saya pasti masih ingat artis Ida Royani. Yang pake baju panjang menutup aurat, pake jilbab besar itu dibully dianggap aliran sesat,” ungkapnya.

Anak-anak sekolah zaman itu, ujarnya, dilarang berhijab. “Zaman Menteri Pendidikan Daud Jusuf, bahkan foto ijazah pun gak boleh pake,” ujarnya.

Bagi mantan wartawan Kompas ini fenomena jilbab benar-benar luar biasa. “Dari wanita-wanita berhijab ini akan melahirkan anak-anak yang shaleh dan shalihah. Saya yakin, karena apa, hijab yang dipakai adalah hijab kesadaran ingin menjalankan syariat Islam,” terangnya.

Indikator kedua adalah kesadaran akan kualitas pendidikan. “Zaman dulu sekolah yang baik itu kalau gak negeri 1 ya sekolah Kristen. Makanya banyak orang Islam yang kaya menyekolahkan anaknya di sekolah Kristen. (Tapi) sekarang tidak lagi,” jelas Ano.

Meningkatkan kesadaran tetang pendidikan itu kemudia diikuti dengan kesadaran lainnya. “Coba anak-anak sekarang, begitu bangganya. Di mana-mana ada tahfidh, ada murajaah. Zaman kita gak ada itu,” kata Ano yang mengaku zaman SD hobinya nggolek (mencari) jangkrik.

“Coba sekarang anak-anak kita (kelas) 4 SD sudah hafal Juz Amma. Tamat SD tamat madrasah sudah hafal Albaqarah. Ndak papa pertama hafal. Lama-lama mereka akan mempelajari sari patinya,” kata Ano.

Ano mengatakan, penguasaan Kitab Suci itu sangat penting sebab matinya suatu agama karena pemeluknya sudah tidak paham kitabnya. “Kenapa Hindu mati di Indonesia. Karena pemeluknya tidak paham dengan kitabnya. Kitab hanya dimonopoli oleh para pemukanya,” ujarnya.

Indikator ketiga adalah meluasnya kesadaran ekonomi umat. “Alhamdulillah ini luar biasa. Ini yang betul-betul selama ini terninabobokkan Bapak Ibu. Kita terlena dengan ekonomi,” ujarnya.

Salah satu kesadaran dalam hal ekonomi ini contohnya gerakan beli di warung tetangga. “Lebih baik di warung tetangga sesama Muslim. Yang hasilnya untuk membesarkan Muslim,” ujarnya sambil membandingkan dengan jaringan minimarket milik konglomerat non-Muslim yang tersebar luas.

“Belilah di warung tetangga. Belilah di toko Basmalah yang diasuh yang dikelola oleh Pondok Pesantren Sidogiri, atau di Surya Mart punyanya Muhammadiyah,” pesannya.

Kesadaran ekonomi umat itu, menurut Ano, ditunjukkan juga oleh berbagai bisnis syariah, seperti dalam perbankan atau pariwisata.

Di hadapan jamaah Masjid At Taqwa. (MN/PWMU.CO)

Kuantitas yang menurun
Ano mengakui, meskipun kualitasnya meningkat, tetapi dari segi kuantitas umat Islam menurun prosentasenya. “Kalau kuantitas, kalau jumlah, kita ini justru turun. Sekitar tahun 70-an jumlah umat Islam Indonesia ini masih 92 persen lebih kurang. Sekarang turun menjadi 87 persen. Jadi ada paradoks, kualitas naik, kuantitas turun,” ungkapnya.

iklan

Menurut Ano, salah satu penyebab turunnya prosentase adalah gerakan kristenisasi. “Kenapa kuantitas turun? Karena adanya kristenisasi. Ini fakta. Cuma kadang-kadang ada saudara-saudara kita Muslim yang tahu ada program kristenisasi di-bully. Dibilang bohong lah,” ujarnya.

Mantan Pemimpin Redaksi Surya itu menegaskan, yang mem-bully bahwa tidak ada kristenisasi itu pasti tidak pernah membaca konsep Joshua Project.

“Itu konsep dunia Kristen akan mengkristenkan dunia. Setiap negara setiap daerah ada. Di Indonesia namanya Indonesian Joshua Project,” ujarnya sambil menunjukkan pemimpin dan jaringan bisnisnya. “Jadi itu fakta. Jangan dibilang mengada-ada. Di lapangan, nyata.”

Ano bercerita, pada Agustus 2018 dia berkunjung ke Madura. “Di sana ketemu para ulama di Pondok Pesantren Al Ihsan Sampang. Para kiai mengadu, Pak di Madura sangat banyak kristenisasi. Cukup masif. Anak-anak dibagi buku, dibagi tas, ternyata apa, di sisipi di situ tentang ajaran Kristen,” ucapnya menirukan aduan kiai.

Modus pemurtadan tidak berhenti di situ, “Belum lama ini saya mendapat aduan dari seorang ibu di pengajian Pondok Tjandra Sidoarjo. Yang mereka membantu pembangunan masjid di sekitar Blitar Selatan. Lima kilomter sebelum tempat itu jalan ditutup katanya untuk keramaian,” ungkapnya.

Bayangkan, lanjut Ano, kalau akhirnya mobil gak bisa bergerak ke sana. Bayangkan kalau ibu-ibu disuruh jalan lima kilometer di Blitar Selatan yang naik. “Tapi apa modus di Blitar Selatan. Itu pemilihan kepala desa. Itu kelompok Kristen, itu yang membiayai calob-calon yang akan jadi. Entah itu Muslim atau tidak. Dibiayai,” ungkapnya.

Ano mengingatkan, upaya kristenisasi seperti itu sudah diingatkan oleh Allah dalam Alquran surat Albaqarah ayat 120, bahwa orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela sampai umat Islam masuk ke dalam agama mereka. (MN)

Ekspresi Anwar Hudijono di depan jamaah. (MN/PWMU.CO)