Jumlah Pengangguran Usia Produktif Terdidik Meningkat, Ini Tawaran Solusinya

66
Hikmah Press
Indra Cahya Uno di depan peserta. (Aan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Komisaris PT Saratoga Investama Dr Indra Cahya Uno mengatakan tingginya angka pengangguran usia muda yang produktif dan terdidik adalah masalah besar yang dapat mengancam masa depan bangsa dan negara Indonesia.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam Talkshow Forum Bisnis bertajuk “Lapangan Kerja dan Tantangan Milenial 4.0” yang diadakan oleh Kordinator Komisariat (Korkom) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UINSA Surabaya di Masjid Fastabiqul Khairat Wonocolo, Surabaya, Kamis (21/3/19).

iklan

Indra mengatakan, setiap tahun lembaga pendidikan di Indonesia pasti menghasilkan lulusan. Sayangnya, tidak semua lulusan bisa langsung mendapatkan pekerjaan begitu lulus.

Akibatnya, kata dia, terjadi peningkatan pengangguran usia muda yang produktif dan terdidik. Di mana, angka pengangguran terdidik di Indonesia makin tahun makin membesar.

“Saat ini ada peningkatan angka pengangguran cukup tinggi di kalangan anak muda. Di mana, yang muda tidak punya pekerjaan. Bahkan, ada hampir satu juta pengangguran bertitel sarjana maupun diploma di Indonesia,” katanya di hadapan peserta.

Menurut Indra, peningkatan pengangguran usia muda adalah problem yang serius bagi bangsa ini di masa depan. Sebab, Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun mendatang akan menerima bonus demografi atau bertambahnya jumlah penduduk usia produktif secara signifikan.

“Kalau tidak ada langkah untuk mengatasi tingginya pengangguran usia produktif, maka bukan bonus demografi yang akan kita dapatkan. Tapi masalah besar bagi bangsa Indonesia,” tegasnya.

Lalu, apakah kira-kira solusinya? Ia menawarkan, solusinya adalah intervensi aksi yang dilakukan secara bersama-sama melalui program pelatihan dan pendampingan usaha. Di mana, begitu mereka (penganggur) memulai usaha langsung bisa mendatangkan keuntungan.

“Inilah yang perlu kita dorong jadi program pemerintah. Mari kita jadikan mereka memiliki pekerjaan alias tidak lagi jadi penggangguran dulu. Kalau mereka sudah ada penghasilan, tapi masih kecil, jadinya mereka masuk kategori miskin. Langkah berikutnya kita tingkatkan secara perlahan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, program intervensi aksi ini adalah upaya untuk menciptakan satu lapangan pekerjaan minimal untuk dirinya sendiri.

“Kita bisa melakukan pembinaan usaha kuliner berbasis gerobak misalnya. Kita sediakan gerobak dan kita ajari mereka pencatatan keuangan dan lainnya. Dengan begitu, saya yakin ada peningkatan kualitas hidup. Bahkan, mereka bisa sukses,” tandasnya. (Aan)