Ketua Umum PP Muhammadiyah: Pancasila Hadiah Terbesar Umat Islam

762
Pasang Iklan Murah
Haedar Nashir didampingi Ketua PWM Jatim M Saad Ibrahim (kiri) dan Rektor Umsida Hidayatulloh (ketiga dari kiri). (Aan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Pancasila adalah hadiah terbesar yang diberikan oleh umat Islam untuk bangsa Indonesia. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr Haedar Nashir mengungkap fakta sejarah bangsa itu ketika membuka Musyawarah Pimpinan Wilayah (Musypimwil) Muhammadiyah Jawa Timur, di Auditorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Sabtu (30/3/19).

Haedar menuturkan, Ki Bagus Hadikusumo misalnya, adalah tokoh Islam modernis yang menentukan titik akhir kompromi dari lahirnya Pancasila pada 18 Agustus 1945.

iklan

“Pancasila sebagai sebuah kesepakatan itu merupakan kelanjutan, dan itu terikat dengan Piagam Jakarta. Itulah hadiah terbesar Islam untuk bangsa Indonesia,” katanya.

Haedar melanjutkan, jejak tokoh gerakan Islam modernis lain seperti halnya pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, Nyai Siti Walida (Aisyiyah) dan Jenderal Besar Sudirman (kader Hizbullah Wathan) sangat luar biasa dalam kebangkitan nasional. Di mana, para tokoh Islam modernis itulah yang meletakkan Indonesia sebagai negara merdeka.

Selepas merdeka, lanjut dia, tokoh Islam modernis lainnya juga ikut menjadikan Indonesia sebagai negara besar. Salah satunya adalah Ir Djuanda. Lulusan terbaik ITB itu mampu menjadikan wilayah Indonesia sebagai satu kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui Deklarasi Djuanda.

“Itulah jejak besar tokoh gerakan Islam modern yang juga kader Muhamadiyah untuk membawa Indonesia pada kemerdekaan dan kemajuan bangsa,” katanya di hadapan pimpinan Persyarikatan se-Jatim.

“Meski, pada rentang perjalanan waktu muncul sudut pandang yang mulai melupakan jejak sejarah bangsa yang sangat penting tersebut,” tambahnya.

Haedar menyatakan, lahirnya tokoh-tokoh dengan jejak sejarahnya untuk umat dan bangsa itu tidak bisa lepas dari prinsip, jiwa dan orientasi gerakan yang menjadikan Islam sebagai agama yang membangun peradaban.

“Maka, jadikanlah warisan sejarah ini sebagai roh dan kekuatan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai sebagai kekuatan pemberi dan pengabdi. Juga untuk menjadikan umat dan bangsa Indonesia berkemajuan,” ujarnya. (Aan)