Gubernur HW Jatim: Pandu Itu Harus Banyak Memberi, Pantang Meminta

129
Hikmah Press
Muhammad Harun Roesyiedh. (Yuni/PWMU.CO)

PWMU.CO – Kwartir Wilayah (Kwarwil) Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) Jawa Timur menggelar Pendidikan dan Latihan (Diklat) Dewan Sughli Wilayah (DSW), di Kantor Lembaga Pengembangan Ekonomi (LPW) Jalan Jemursari Selatan IV No. 16 Surabaya, Jumat-Ahad (29-31/3/19).

Diklat bertema “Membangun Jiwa Leadership demi Mewujudkan Kader HW yang Berintegritas” ini diikuti 25 Pandu HW Penghela dan Pandu HW Penuntun se-Jatim. Mereka berasal dari Blitar, Situbondo, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, Surabaya, Lamongan, Jember, Batu, Malang dan Ponorogo.

Dalam sambutan pembukaan, Jumat (29/3/19), Ketua Kwarwil Gerakan Kepanduan HW Jatim Muhammad Harun Roesyiedh memberi apresiasi kepada seluruh peserta yang telah merelakan waktu, tenaga, dan dananya kegiatan ini.

Ramanda Harun—panggilan akrabnya di HW—menegaskan strategisnya peran Pandu HW Penghela dan Pandu HW Penuntun. Karena itu, melalui Diklat DSW ini dia mengajak mereka untuk menambah pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman dalam pengelolaan organisasi.

Sebab, dengan itu, ujarnya, akan terjadi peningkatan bakat kepemimpinan sebagai usaha pengembangan pribadi dan pengabdiannya kepada HW, Muhammadiyah, masyarakat, bangsa, dan negara. “Melalui Diklat DSW ini kalian semua akan melatih diri,” ucapnya.

Pria yang mendapat julukan Gubernur HW Jatim ini menjelaskan, melalui DWS ini pula akan lahir kader otentik yang bersemi di Muhammadiyah sehingga menjadi kader pemimpin dan pembaharu di masa mendatang.

Ramanda Harun mengatakan, kuncinya adalah tumbuhnya jiwa leadership (kepemimpinan) dan integritas pada diri kader, sehingga melahirkan karakter: banyak memberi dan tidak banyak meminta. “Melalui Diklat DSW dan kegiatan lainnya seperti latihan gabungan, jambore, lomba pandu prestasi, kemah bakti, dan pelatihan-pelatihan lain di mana DSW akan terlibat di dalamnya maka akan terbentuk kader HW yang diharapkan Muhammadiyah,” terangnya.

Ketua DSW Jatim Rhona Ulul Azmi menjelaskan Diklat DSW dikemas dalam tiga sesi. Sesi pertama diadakan di ruang kelas, sedangkan sesi kedua dan ketiga akan dilaksanakan di alam terbuka. “Mereka akan berkemah sembari menerima materi dan akan mempraktikkan latihan pertolongan pertama Hizbul Wathan,” mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surabaya ini.(Yuni/Juni/MHR)

iklan