Masa Depan Indonesia di Bawah Pangeran Sora dalam Story Telling Bergambar Karya Siswa Smamsatu

239
Hikmah Press
Riza Biokta Putra Nugraha (dua dari kiri) bersama Mr. Ryan Duborff Ulrich dan kedua orangtuanya. (M Ali Safa’at/PWMU.CO)

PWMU.CO – Riza Biokta Putra Nugraha, siswa Kelas XI MIA 1 International Class Program (ICP) SMAM Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik, berkesempatan mengikuti kompetisi tingkat nasional “English Words Competition”, yang diadakan American Indonesian Exchange Foundation (Aminef) @fulbrightindonesia di Pacific Place Mall & Sultan Hotel, Jakarta Pusat, Rabu-Sabtu (3-6/4/19).

English Words Competition adalah ajang kompetisi bahasa Inggris yang harus diikuti oleh sekolah di seluruh Indonesia yang mempunyai guru bantu dari Aminef @fulbrightindonesia, karena merupakan program wajib Fulbright ETA (English Teaching Assistant).

iklan

Kegiatan yang diikuti oleh 22 sekolah ini berupa kompetisi story telling (bercerita denganbahasa Inggris) dengan tema ‘Future of Indonesia’ atau ‘Masa Depan Indonesia’.

Tapi ada yang berbeda dari kompetisi story telling biasanya. Karena dalam ajang ini peserta tidak hanya bercerita, tapi juga wajib menggambar apa yang akan dia ceritakan dalam sebuah buku gambar. Peserta harus menceritakan harapannya terhadap Indonesia yang akan datang: bisa melalui cerita nyata ataupun fiksi.

Dalam kesempatan ini, Riza menyiapkan cerita tentang Indonesia masa depan melalui sebuah kisah fiksi berjudul Pangeran Sora.

Pangeran Sora adalah pemegang kunci dari sebuah batu istimewa dengan kekuatan alam yang diperebutkan oleh lima kerajaan besar pada saat itu. Kerajaan tersebut adalah Kerajaan Api, Kerajaan Angin, Kerajaan Air, Kerajaan Bumi, dan Kerajaan Cahaya.

Kelima kerajaan tersebut memiliki perbedaan yang sangat mencolok dan saling berseteru. Mereka saling ingin mendapatkan batu istimewa tersebut, karena sama-sama merasa paling benar. Tapi akhirnya, berkat Pangeran Sora, mereka menjadi sadar, dan perbedaan itu bisa disatukan.

“Cerita fiksi ini menggambarkan keadaan Indonesia yang sekarang. Indonesia seperti terpecah karena perbedaan.Tapi, kalau kita mau menghargai satu sama lain dan melupakan perbedaan, mau kita Islam, Kristen, Budha, Hindu, pemilih Jokowi, pemilih Prabowo, pasti kita kita akan hidup bahagia,” katanya.

Kepada PWMU.CO yang menemuinya di sekolah sebelum keberangkatannya, Rabu (3/4/19), Riza menyatakan sudah siap mental untuk menghadapi perlombaan ini.

“Saya sudah siap mental dan selalu berfikiran positif untuk lomba ini. Selain itu, saya juga latihan setiap hari bersama Mr. Ryan sejak saya terpilih awal Maret lalu. Mohoan doakan agar saya menang, karena itu target saya,” katanya. Mr. Ryan Duborff Ulrich adalah guru Fulbright ETA yang bertugas di Smamsatu.

Kedua orangtua Riza—Gogor Bambang Nugroho ST dan Nur Hasyimah—yang ikut mengantarkan, merasa sangat bangga atas capaian Riza. Keduanya mengucapkan terima kasih kepada Smamsatu Gresik yang sudah membantu mengembangkan bakat anaknya.

“Alhamdulillaah, saya bangga dengan apa yang dicapai oleh Riza seperti sekarang ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Smamsatu Gresik atas semuanya. Karena di sini, tidak hanya bakatnya yang berkembang, tapi akhlaknya juga semakin bagus,” kata Nur Hasyimah. (M. Ali Safa’at)