Siswi yang Pernah Dipaksa Ortu Pilih Sekolah Ini, Kini Kantongi Golden Ticket Masuk Unair

169
Hikmah Press

Marisa Adilla Putri. (Sonya/PWMU.CO)

PWMU.CO – Kegiatan Be Smart Sukses Kelas VI SD Muhammadiyah 2 GKB Gresik (Berlian School), Jumat (5/4/19) sore, kali ini ada yang berbeda. Tampak seorang remaja putri berjas kuning dalam deretan depan kursi.

Dia adalah Marisa Adilla Putri siswi SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik. Tiba gilirannya, dia berdiri, maju ke depan. Di hadapan 122 peserta, dia menuturkan success story dengan penuh semangat.

iklan

Marisa mengisahkan perjalanan awal mula kesuksesannya sebagai salah satu peraih “Golden Ticket” menuju Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair dari “Passion dan Feeling”. Dia mengatakan keberhasilan itu adalah berkat aktivitasnya sebagai Sekretaris Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik.

Terpilih sebagai sekretaris itu membuatnya harus belajar berhadapan dengan banyak orang. Mengatur beberapa anggota dan mengatur kegiatan-kegiatan yang sangat banyak, di tengah kesibukan belajarnya.

Kecakapan organisasi seperti itu tidak dia kira sebelumnya. Bayangkan, dia masuk di SMP favorit di Gresik tersebut karena pakasaan orangtua (ortu). Karena itu dia mengaku gamang.

Tapi, karena keputusannya sudah bulat, dia jalani keinginan ortunya itu. Alhamdulilah, semakin hari dia semakin kerasan. Apalagi dia menemukan pelajaran soal kemandiran hidup di sekolah dengan jumlah siswa 200 lebih ini. “Saya juga bisa membuka wawasan dan mencari tahu dari berbagai disiplin ilmu di sekolah,” ucapnya.

Selepas lulus SMP, Marisa kembali diliputi rasa galau. Sebab, ortunya menginginkan dia masuk di sekolah negeri favorit. “Tapi secara diam-diam saya mencoba cari tahu tentang sebuah sekolah yang bisa membuat saya serasa masuk ke dalam episode ‘drama korea’. Sekolah itu adalah Smamio,” ujarnya.

Keraguan juga muncul ketika orang-orang di sekelililngnya, termasuk sahabat-sahabatnya, menanyakan tentang pilihannya itu. Sebab, saat itu Smamio baru buka kelas. Untuk menjawab keraguan itu, Marisa, juga sahabatnya, melalukan shalat Istikharah.

Istikharah sahabatnya membuahkan hasil. Marisa dimimpikan memakai jas alamamter kuning yang sekarang menjadi jas kebanggaan Smamio. Dia sendiri mengaku punya hasil yang berbeda.

Marisa bercerita, dia tidak pernah lupa terhadap pesan para gurunya di Smamio bahwa walaupun belum ada kakak kelas yang diluluskan, tapi angkatan pertama inilah yang akan melukis sejarah keberhasilan bagi adik-adik kelasnya nanti.

Dalam kesempatan tersebut Marisa juga mengisahkan indahnya hari-harinya saat Golden Ticket itu sampai di tangannya. “Malam sebelum keberangkatan ustadzah Jamilah menawarkan aku untuk ikut agenda di Unair. Saat itu aku tidak berpikir panjang. Aku iyakan saja ajakan beliau karena aku ingin tahu bagaimana dan seperti apa rasanya ketika aku masuk ke Unair,” ungkapnya.

Dalam forum terbuka yang diikuti lebih dari siswa-siswi SMA se-Indonesia itu, sang dekan bertanya, “Siapa yang pernah menjadi Ketua OSIS?” Seperti ada yang mendorongku, akhirnya aku beranikan mengacungkan tangan,” ujarnya.

“Naiklah kakak ke mimbar waktu itu, dan ternyata kakak langsung diterima di Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair 2019,” ujarnya.

Marisa lalu memotivasi adak-adiknya di Berlian School, “Kita tidak perlu takut untuk meraih kesuksesan karena sekolah negeri pun belum menjamin kita bisa menggapai apa yang kita cita-citakan,” ucapnya. (Sonya)