Yang Menyogok dan Disogok dalam Pemilu Sama-Sama Masuk Neraka

418
Hikmah Press
Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Dr Muhammad Sholihin Fanani. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Pelaksanaan Pemilu 2019 tinggal beberapa hari lagi. Pada tanggal 17 April 2019 masyarakat akan menggunakan hak pilihnya serentak di seluruh Indonesia.

Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr Muhammad Sholihin Fanani MPSDM pun mewanti-wanti warga dan calon anggota legislatif (caleg) yang sedang berebut kursi dalam pemilu agar betul-betul mampu menjaga nilai-nilai agama, menjaga akidah, ibadah, dan akhlakul karimah.

iklan

“Jangan sampai kita melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Walaupun politik ini urusan dunia, tapi jika kita tidak berhati-hati dalam melaksanakan urusan ini, maka dikhawatirkan akan dapat merusak akidah dan akhlak kita,” katanya kepada PWMU.CO, di Surabaya, Rabu (10/4/19).

Sholihin mengatakan, seorang caleg tidak boleh menggadaikan akidah dengan pergi ke tempat-tempat tertentu yang dianggap bisa memberikan pertolongan. Atau datang ke orang-orang pintar untuk mendapatkan gambaran masa depannya.

“Caleg juga dilarang menyogok pemilih untuk mendapatkan suara. Sebab, selain tidak dibolehkan dalam aturan pemilu, orang yang menyogok dan yang disogok akan sama-sama masuk neraka,” tuturnya.

Bagi masyarakat, pria asal Lamongan itu mengingatkan, agar jangan sampai ikut-ikutan berbuat dosa dengan menerima pemberian ketika memilih calon pimpinan bangsa.

“Masyarakat harus berani menolak jika ada oknum calon yang memberikan sesuatu. Apalagi, malah meminta-minta sesuatu dari calon pemimpin bangsa,” serunya.

Menurut dia, praktik politik uang (sogok-menyogok) tersebut masuk dalam kategori bersekongkol untuk melakukan kejahatan secara masif. “Kita (masyarakat) juga akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT kelak,” terangnya.

Sementara, bagi penyelenggara Pemilu, Sholihin mengingatkan agar KPU maupun Bawaslu mampu bersikap profesional dan adil. Sebaliknya, jangan sampai melakukan hal-hal yang melanggar aturan dan etika.

“Mari, kedepankanlah hati nurani dan niat yang ikhlas untuk menjadi penyelenggara yang baik demi memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika kita berbuat baik, maka kita akan mendapatkan kebaikan dunia akhirat. Jika anda melakukan dosa, maka anda juga akan mendapatkan balasan dosa dunia akhirat,” jelasnya.

Sholihin melanjutkan, sebenarnya agama Islam telah memberikan panduan bagaimana kriteria untuk memilih pimpinan, sebaimana itu tercermin dalam sifat dan pribadi Rasulullah SAW yang shidiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

“Jika calon pemimpinnya baik, masyarakatnya baik dan penyelenggaranya baik, maka insyaallah kita akan mendapatkan pemimpin yang berkualitas. Begitu juga sebaliknya,” urainya.

Maka, ia menegaskan, masyarakat harus pula menyadari bahwa pemilu ini adalah sebuah ikhtiar untuk memperbaiki kondisi bangsa dan negara dengan cara memilih pemimpin yang baik dan taat beragama.

“Mari kita berdoa agar diberikan pemimpin yang baik, jujur, adil, amanah dan bisa menjadi teladan bagi umat. Juga bisa mengembangkan dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat untuk menciptakan baldatun thsyyibatun warabbun ghafuur. Amin,” ungkapnya. (Aan)