Ada Persahabatan dan Kebersamaan dalam Satu Nampan Hidangan Makan Siang Pandu HW

214
Pasang Iklan Murah
Pandu putri saat makan bersama (Vita/PWMU.CO)

PWMU.CO – Hizbul Wathan (HW) Camp yang diadakan tiga sekolah atau madrasah di Kecamatan Manyar, Gresik, ini—SD Muhammadiyah Manyar, MI Muhammadiyah 1 Gumeno, dan MI Muhammadiyah 2 Karangrejo—selalu memiliki kisah unik.

Seperti yang terjadi saat makan siang Jumat (12/4/19), di hari pertama kegiatan perkemahan yang berlangsung di Bumi Perkemahan Semen Indonesia Gresik.

Pasalnya, dalam makan siang bersama itu panitia merancang model yang berbeda dari kebiasaan para Pandu HW saat di rumah dengan keluarga. Kali ini para siswa diajak makan tanpa piring, tetapi dalam satu wadah (nampan) untuk satu kelompok yang terdiri dari 10 siswa. Di dalamnya ada nasi dan lauk-pauk yang diletakkan di tengahnya. Cara makannya pun dengan muluk yaitu dengan tangan tanpa sendok dan garpu.

“Ini adalah bentuk kebersamaan untuk saling berbagi dan peduli. Menghilangkan perbedaan dan mengamalkan cara makan Rasulullah, di mana beliau makan dengan tangan bersama dengan para Sahabatnya,” ungkap Koordinator Sie Konsumsi Pradipta Eka Putri SPdI.

iklan

Puput, sapaannya, menjelaskan cara makan seperti itu juga mencerminkan tema yang diusung dalam acara HW Camp tahun ini yaitu “Friendship and Togetherness” alias “Persahabatan dan Kebersamaan”.

Pandu putra ketika makan bersama. (Vita/PWMU.CO)

Puput mengatakan, momen kebersamaan ini hanya bisa ditemukan di HW Camp. “Di mana siswa-siswa belajar untuk makan apa yang ada di hadapannya, tidak menyerobot makanan di sampingnya. Sehingga karakter untuk sopan santun terjaga,” kata alumnus Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor ini.

Menurut dia, filosofi lain yang bisa diambil dari gaya makan itu adalah belajar berbagi dengan teman sebelahnya, yakni dengan simbol saling berbagi lauk-pauk jika melihat temannya kekurangan.
“Kita akan lihat mana teman yang kekurangan lauk dan masih merasa lapar. Apakah ada keinginina berbagi?” ungkap guru Bahasa Inggris lulusan Universitas Muhammadiyah Gresik itu.

Cara makan yang tidak biasa bagi siswa-siswi di tiga sekolah itu mendapat tanggaan positif, seperti disampaikan Muhammad Agung Prasetiyo, siswa kelas V MIM 2 Karangrejo. “Senang. Dan ini pengalaman pertama saya. Alhamdulillah makanannya enak dan kita satu kelompok makan sampai habis,” ungkapnya. (ZAW)