Ternyata Muhammadiyah Tak Pernah Lepas dari Politik

249
Pasang Iklan Murah
Nadjib Hamid (dua dari kanan)

PWMU.CO – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Nadjib Hamid menyatakan Muhammadiyah dan politik tidak pernah tak sejalan. Juga tidak pernah tak beriringan dengan politik.

Pernyataan itu dia sampaikan dalam acara Dialog Kebangsaan dan Konsolidasi Pemenangan Calon DPD RI Nadjib Hamid, Jumat (12/4/19) malam.

iklan

Acara bertema “Menakar Visi Politik Muhammadiyah” ini diadakan Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Jatim di Aula Mas Mansyur Gedung Muhammadiyah Jatim Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya.

Nadjib menerangkan, hubungan Muhammadiyah dan politik setidaknya bisa dibaca dari peran para tokoh-tokoh Muhammadiyah. KH Ahmad Dahlan, misalnya, ketika mendirikan Muhammadiyah dalam wujud sebuah gerakan adalah manifestasi dan aspirasi politik.

“Karena waktu itu situasinya terjajah, maka manifestiasi politik Muhammadiyah terwujud dalam gerakan kultural. Melalui pendirian lembaga pendidikan dan lainnya. Nah, itu tak bisa dikatakan itu bukan politik,” paparnya.

Ia menyebutkan, mendidik anak bangsa menjadi cerdas dan sehat, misalnya, juga adalah upaya persiapan sumber daya manusia (SDM) menghadapi penjajah. “Itu jelas gerakan politik tanpa harus menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan politik,” terangnya.

Calon DPD RI Dapil Jatim dengan nomor urut 41 ini menuturkan, kalau pada zaman penjajahan itu Muhammadiyah menyatakan sebagai gerakan politik, maka bisa dipastikan Muhammadiyah akan langsung dihabisi. “Maka, politik harus diimbangi dengan strategi dan taktik,” urainya.

Nadjib melanjutkan, begitu pula menjelang dan pra-kemerdekaan Indonesia. Para tokoh Muhammadiyah banyak mengambil peran penting dalam kemerdekaan Indonesia.

Disebutkan, Ki Bagus Hadikusuma, yang merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang langsung berada di depan masuk BPUPKI. Sedangkan, H Agus Salim melakukan lobi sana-sini dan berdiplomasi sehingga Indonesia diakui dunia. Selain itu, Muhammadiyah juga mempunyai kader bernama Soedirman, Djuanda, dan lainnya.

“Itu fakta sejarah. Jadi, kita tidak bisa bilang Muhammadiyah steril dari gerakan politik. Hanya saja wujud gerakan politik Muhammadiyah berbeda. Semua itu harus dibaca sebagai strategi dan taktik,” tegasnya. (Aan)