Lulusan Magister Bahasa Ini Diminta Jangan Tutup Buku Usai Yudisium

65
Hikmah Press
Peserta yudisium S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia bersama Wakil Rektor, Direktur Pascasarjana, dan Kaprodi. (Juwari/PWMU.CO)

PWMU.CO– Universitas Muhammadiyah Surabaya menggelar Yudisium dan Orasi Ilmiah Program Pascasarjana Semester Genap Tahun Akademik 2018-2019, Ahad (14/4/2019).

Sebanyak 29 mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) yang telah lulus berkumpul di At Tauhid Tower lantai 9 UMSurabaya. Mereka calon wisudawan dengan berjas hitam sedangkan calon wisudawati berkebaya.

iklan

Acara dimulai pukul 08.30 diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh Moh. Ikhwanuddin MHI yang membacakan surat Al Hasyr ayat 18 sampai 21.

Sambutan pertama disampaikan oleh Direktur Pascasarjana Prof Dr H Abdul Hadi MAg. ”Bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi tulisan maupun lisan, juga sebagai alat pemersatu bangsa. Dengan bahasa Indonesia bisa merdeka,” ujar Prof Hadi.

Dia juga mengingatkan beban moral mahasiswa S2 untuk tetap memelihara bahasa Indonesia kepada para pembelajar atau pendidik yang dihadapi. ”Jangan hanya kuliah selesai, bukunya ditutup kemudian tidak ada beban moral,” tandasnya.

Wakil Rektor Dr Abdul Aziz Alimul Hidayat SKep Ns MKes menerangkan pentingnya mengembangkan teori dan menyelesaikan berbagai masalah bahasa Indonesia di berbagai jenjang pendidikan. Ini tugas yang harus diemban lulusan S2.

”Bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa strategis minimal di Asia Tenggara. Bahkan sudah dipelajari di luar negeri,” kata  Abdul Aziz.

Minat baca orang Indonesia itu tinggi, katanya. ”Tapi daya bacanya rendah. Karena daya baca memengaruhi daya saing bangsa,” sambungnya.  Dia berpesan agar mengamalkan ajaran agama selama belajar di Muhammadiyah untuk mencerahkan bangsa.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan SK Rektor tentang yudisium oleh Dr M Arfan Muammar MPdI. Kemudian pengukuhan peserta yudisium oleh Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Dr Ali Nuke Affandy MSi.

Ada kejutan di acara ini. Tiga mahasiswa terbaik mendapat sertifikat. Mereka adalah Sa’id Arizal MPd, Rahmat Utomo MPd, dan Siti Nazzala MPd.

Orasi ilmiah berlangsung sekitar satu setengah jam disampaikan oleh Prof Dr Setya Yuwana MA, dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa). (Kiki Cahya Muslimah)